Beredar video grup qasidah ibu-ibu tampil saat acara peresmian gereja baru di Halmahera Utara, Maluku Utara. Iya, beneran qasidah tampil di dalam gereja. Momen langka kan? Momen ini bisa dilihat di akun tiktok @dattoevan 20 November lalu.
Dalam video itu, grup qasidah itu membawakan lagu religi islami, salah satunya berjudul Magadir. Mereka tampil di bagian depan gereja, dekat area altar. Para penampil memakai busana muslimah (seragam ungu), menabuh alat musik qasidah, dan menyanyi secara harmonis.
Banyak orang langsung ngeliat ini sebagai contoh toleransi, adem ayem, dan kerukunan antar-umat di Indonesia Timur. Soalnya jarang banget ada momen persaudaraan lintas agama yang setulus ini, apalagi di ruang ibadah. Dan FYI ya, ibu-ibu ini cuma nyanyi lagu bernuansa damai. Mereka nggak ikut ibadah.
Buat yang belum tau, qasidah itu musik religi Islami dari tradisi Arab yang udah lama berkembang di Indonesia. Isinya biasanya pujian, pesan moral, dakwah ringan, dan ajakan kebaikan. Grupnya biasanya ibu-ibu, lengkap sama rebana, tamborin, marwas, dan kostum seragam. Intinya, ini penampilan seni, bukan ritual. Mereka bisasanya tampil di acara pengajian, maulid, pernikahan atau kegiatan keagamaan lainnya.
Tapi sayangnya nggak semua komen isinya apresiasi. Sebagian netizen justru mempersoalkannya. “Toleransi bukan kolaborasi” tulis seorang netizen. “Toleransi itu artinya menghargai bukan mencampuri” tulis netizen lain. “Maaf… Biarpun kita bertoleransi tapi saya rasa bukan begitu caranya.. Ada juga tempatnya” tulis yang lain.
Kritik soal momen ini juga disampaikan oleh akun instagram @aguskhoirulhuda1, 26 November lalu. muka agus. Disitu Agus nanya, kalau umat Kristen hadir di acara pembangunan masjid terus nyanyi lagu rohani di dalam masjid, kira-kira kalian sebagai umat Kristen merasa gimana? Agus juga ngangkat soal pluralitas vs pluralisme. Dia juga bilang, islam itu agama yang pluralitas, tidak mengakui pluralisme. Pluralitas dengan pluralisme itu beda, katanya. Pluralitas adalah mengakui adanya keberagaman dalam beragama, sedangkan pluralisme menganggap semua agama itu sama. “Meyakini kebenaran yang sama-sama menuju pada suatu titik yang sama. Dan itu tidak diperbolehkan” katanya.
Hm… kalau dilihat baik-baik, sebenarnya momen ini positif banget loh. Apa yang terjadi bisa banget dilihat sebagai bentuk perdamaian dan kerukunan antar-umat beragama. Ibu-ibu qasidah itu juga bukan sedang beribadah di gereja, mereka hanya menampilkan lagu bertema damai dan persatuan. Lagi pula, apa masalahnya berbagi kebahagiaan dengan menunjukkan penampilan kepada saudara-saudara kita beragama Kristen di dalam gereja? Penampilan itu mencampuri apanya? Kebablasannya di mana? Nyanyian yang ditampilkan grup qasidah ibu-ibu itu kan bukan lagu rohani Kristen?
Dan apa yang dikatakan masnya itu soal pluralisme nggak tepat. Gimana kita bisa menerima pluralitas, tapi di sisi lain kita malah menolak pluralisme? Pluralisme itu bukan konsep soal menyamakan semua agama. Pluralisme itu konsep yang mengakui keberagaman agama dan mengakui setiap agama punya kebenaran dan jalannya masing-masing. Konsep ini pun terdapat dalam local wisdom kita: bhineka tunggal ika. Di Maluku local wisdom itu di antaranya disebut Pela, Gandong, dan Badati.
Penampilan grup qasidah ibu-ibu ini menunjukkan masyarakat kita dewasa menyikapi keberagaman agama. Ini bisa jadi contoh bahwa Muslim dan Kristen bisa hidup dengan rasa saling menghargai dan bersaudara. Hal indah yang menjadi kekayaan Indonesia yang harus kita rawat terus-menerus. Yuk, kita rawat terus toleransi di Indonesia!


