Umat Kristen di Aceh Relakan Gerejanya Digunakan Jadi Tempat Pengungsian Korban Banjir

Published:

Sikap toleran umat Kristen di Aceh ini keren abis. Mereka menyediakan gerejanya dipakai sebagai tempat penampungan korban banjir yang melanda tiga provinsi di Sumatera. Momen itu terekam dalam sebuah video yang diposting aku X @dwioktariyadi. Video itu menampilkan penyanyi Andien yang saat ini sedang menjadi relawan di lokasi banjir, berada di sebuah gereja di desa Sukarame, Aceh Tamiang, Aceh. Andien kemudian menyampaikan kalau gereja itu menjadi tempat yang aman bagi anak-anak dan korban banjir lainnya untuk berlindung. Menurut Andien di lokasi sekitar gereja ada 54 rumah yang hanyut karena banjir. Gereja adalah satu-satu bangunan yang selamat dan masih bisa digunakan untuk berlindung.

“Jadi gereja ini merupakan salah satu tempat aman adik-adik yang ada di sini, buat warga yang ada di sini,” ucap Andien. Andien juga menyampaikan ada sekitar 1500 KK di desa Sukarame, dan sebanyak 800 KK terdampak oleh banjir itu. Selain memberikan bantuan, dia juga mencoba menghibur anak-anak dan warga lain yang terdampak. Dia misalnya mengajak anak-anak bernyanyi dan melakukan aktivitas lainnya di dalam gereja maupun di luar gereja.

Banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Barat dan Sumatera Utara memang berdampak besar bagi masyarakat di tiga provinsi itu. Sampai saat ini, tercatat ada seribu orang lebih tewas karena banjir dan longsor tersebut. 190 orang dinyatakan hilang dan 7000 warga mengalami luka-luka. Bencana tersebut berdampak pada 52 kabupaten/kota, dengan total 147.236 rumah rusak. Kategori rusak berat ada 44 ribu rumah, rusak sedang 29 ribu dan rusak ringan mencapai 73 ribu rumah. Bencana itu juga mengakibatkan sebanyak 1.600 fasilitas umum rusak. Terdiri dari 219 fasilitas kesehatan, 967 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung dan perkantoran serta 145 jembatan.

Setelah hampir sebulan bencana itu, para pengungsi akibat bencana itu juga masih banyak, masih mencapai lebih dari setengah juta orang. Tersebar di berbagai gedung, rumah ibadah dan tenda-tenda yang didirikan oleh pemerintah dan para relawan. Salah satu rumah ibadah yang digunakan adalah gereja, seperti yang ada di desa Sukarame, Aceh Tamiang.

Kami di Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) sangat mengapresiasi umat Kristen di Aceh. Bagi kami, kesediaan rumah ibadah mereka digunakan sebagai tempat pengungsian mencerminkan tingkat toleransi yang tinggi. Mereka merelakan gerejanya dipakai berlindung oleh orang-orang yang tidak seiman dengan mereka. Padahal, bisa jadi gereja itu akan digunakan untuk perayaan natal yang akan mereka adakan beberapa hari lagi. Tapi, mereka tetap memilih gereja itu tetap digunakan korban banjir sebagai tempat berlindung. Tak hanya itu, berbagai kelompok umat Kristen di Indonesia juga telah banyak menyalurkan bantuan ke para korban banjir di Sumatera. Yang notabene, mayoritas beragama Islam.

Tapi ironisnya, masih saja ada sebagian umat Islam yang diskriminatif terhadap umat Kristen. Yang saat ini sedang ramai, beberapa kalangan umat Islam mendeklarasikan tanggal 25 Desember sebagai hari mualat sedunia. Padahal kita semua, tanggal 25 Desember adalah hari sakral bagi umat Kristen. Pada tanggal itu umat Kristen merayakan hari Natal, hari kelahiran Yesus Kristus. Jelas, upaya itu sebagai olok-olok bagi umat Kristen. Perilaku sebagian umat Islam ini, seperti air susu dibalas air tuba. Kalangan intoleran, buka mata hati kalian!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img