Israel ternyata tidak seperkasa yang dibayangkan. Sejak tanggal 13 Juni, Israel digempur Iran melalui serangan udara. Dan ternyata, pertahanan Israel bisa ditembus. Ratusan rudal balistik dan drone ditembakkan oleh Iran. Berbagai kota strategis Israel harus merasakan akibat serangan Iran.
Sejauh ini dari keseluruhan serangan, 20 orang tewas, 200 orang lebih terluka, dan 35 orang masih belum ditemukan. Beberapa rudal berhasil menembus pertahanan serta area perumahan dan markas militer Israel. Serangan udara Iran ini luar biasa mengejutkan. Ini adalah kali pertama Israel menerima serangan udara yang sangat intensif dan efektif.
Aksi militer Iran pada dasarnya adalah pembalasan atas serangan udara besar-besaran Israel ke sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir di beberapa tempat, pada 13 Juni lalu. Israel menuduh Iran mengembangkan persenjataan nuklir. Israel mengklaim serangan tersebut dilakukan untuk menghancurkan kemampuan program nuklir Iran. Untuk menghancurkan Iran, Israel mengerahkan lebih dari 200 jet tempur saat serangan pertama diluncurkan ke Iran. Israel membom fasilitas nuklir, markas dan infrastruktur militer Korps Garda Revolusi Islam, termasuk pangkalan udara, komando militer, radar pertahanan udara, serta juga situs minyak, gas, dan pangkalan minyak di Teheran. Israel juga membunuh sejumlah perwira senior militer dan ilmuwan nuklir Iran.
Semula Israel nampak di atas angin. Tapi Iran ternyata tidak tinggal diam. Walau diakui sebagai negara kuat di Timur Tengah, di abad 21 ini Iran tidak pernah mempertontonkan kemampuan militernya. Kini tiba-tiba saja, Iran membombardir Israel. Terbukti, Iran ternyata punya kemampuan ofensif rudal dan drone yang jauh lebih canggih dari perkiraan Barat. Akibatnya, Israel yang selama ini dianggap punya pertahanan udara terbaik di dunia, tampak rentan. Kehebatan Iran ini menjadikan negara-negara Teluk mulai menimbang ulang strategi pertahanan mereka.
Bahkan Amerika “ragu” mendukung Israel. Awalnya AS mendukung Israel. Namun seiring meningkatnya eskalasi, muncul ketidakyakinan Washington terhadap kemampuan Israel untuk bisa menang cepat. AS tidak mengerahkan kapal induk atau pasukan tambahan di Teluk. Pemerintah AS mendesak Israel melakukan “deeskalasi” alias penurunan serangan, bukan “pembalasan penuh”.
Dukungan terhadap Iran pun mengalir. Rusia & China menyebut Israel “aktor provokatif” dan memberi dukungan diplomatik terbuka ke Iran. Turki, secara terbuka menyatakan bahwa “Iran berhak membalas diri”. Pakistan, rival lama Israel, menyatakan “akan mendukung penuh Iran jika Israel menyerang lebih lanjut”. Bahkan negara-negara Global South yang netral mulai berpihak ke Iran. Contohnya Indonesia, Afrika Selatan, Bolivia.
Serangan dari Iran bukan sekadar balasan atas agresi brutal Israel. Ini pertanda Iran bukan lagi pemain pasif dalam peta konflik Timur Tengah. Israel dengan sistem pertahanan udara tercanggih kebobolan dan berdampak serius. Israel selama ini bersembunyi di balik narasi “membela diri”. Padahal kerap menjadi pelaku provokasi. Iran sudah menyatakan mereka akan terus menggempur Israel, kecuali Israel bersedia menarik mengundurkan diri dari wilayah pendudukan Palestina.
Sudah saatnya kita mengakui: kekuatan sejati bukan di tangan yang menggenggam senjata, tapi di hati yang berani memilih jalan damai. Meski jalannya panjang dan sepi. Stop war, spread love!


