Masih ingat ga, sama gonjang-ganjing kelulusan doktoral Menteri (ESDM), Bahlil Lahadalia? Namanya rame lagi dibahas gara-gara lulus S3 di UI yang dianggap nggak masuk akal. Ini bermula dari postingan akun Twitter @bemuiofficial nge-post spanduk yang nyantumin foto Bahlil. Spanduk ini dipasang tepat di depan pintu Stasiun UI. Isi spanduk itu sarkastik, mempromosikan soal “jasa kilat gelar akademik” UI, dengan nama Bahlil sebagai testimoni.
Bahkan tertulis nomor telepon, dan di ujung spanduk tertulis “#NEGOSAMPAIJADI”.
“Demi apa, sih, bisa dapat gelar akademik secepat kilat dari “World Class University”? Yang minat bisa tanyakan testimoni ke Bahlil Lahadalia, ya!” tulis captionnya.
Postingan ini langsung bikin netizen heboh. Ada yang khawatir nasib BEM UI bakal sama kayak BEM Fisip UNAIR. Alias dibekukan setelah berorasi kasar menyindir Prabowo-Gibran. Ada juga yang berkelakar seolah tertarik dan menanyakan biayanya.
FYI, Bahlil jadi sorotan karena dapet gelar doktor UI dalam waktu yang dianggap publik terlalu cepat. Tercatat, dia baru mulai kuliah S3 di UI sejak 13 Februari 2023. Artinya, belum dua tahun sudah dapet gelar doktor! Gelar kilat ini jelas bikin akademisi dan netizen angkat alis, dianggap gak masuk akal. Bahlil sih bilang, gak tahu-menahu soal urusan internal universitas, karena mengaku hanya seorang mahasiswa. Tapi dia pastiin udah ikutin aturan dan selesaiin studi 4 semester, sesuai jadwal.
UI juga membela, bilang kalau gelar Bahlil sesuai prosedur dan aturan kampus. Aturannya memang minimal 4 semester untuk program S3 jalur riset. Hmm… semoga spanduk viral ini gak bikin BEM UI bernasib sama dengan BEM UNAIR ya. Bagaimanapun kan ini bentuk kebebasan berekspresi, yang seharusnya menjadi bahan introspeksi UI.
Jangan ada lagi pemberian gelar secara ‘anomali’ gak masuk akal kayak gini. Sayang-sayang kan predikat dan nama baik UI kalau tercoreng di mata publik, akibat ulah internalnya sendiri.
Yuk, selamatkan integritas kampus dan dunia akademik di Indonesia!


