Kalau ditanya siapa sih youtuber dengan penghasilan tertinggi saat ini? Jawabannya pasti kalau bukan Raffi Ahmad, Atta Halilintar, ya Ria Ricis. Ternyata bukan loh! Yang bener adalah kanal Youtube Zuni and Family. Penghasilannya mencapai 183 miliar rupiah per tahun. Gokil! Ini menjadikan kanal itu sebagai Youtuber dengan penghasilan tertinggi se-Asia.
Ini disampaikan situs digitalinformationworld.com yang baru saja merilis daftar Youtuber berpenghasilan tertinggi sepanjang 2025 di kawasan Asia dan Oceania. Zuni and Family sendiri beranggotakan 5 orang. Ada Fuad sang kepala keluarga, istrinya Zuni dan ketiga anak perempuan mereka: Keysha, Afsheena, dan si bungsu Aracelli.
Channel ini dibangun pada 25 Agustus 2017 dan udah bikin 332 konten dengan subscribers 20,5 juta. Jumlah komulatif penonton videonya lebih dari 9 miliar. Ada satu videonya yang udah ditonton lebih dari 2,7 miliar kali. Isi kontennya pun simple, seputar permainan kreatif untuk anak dengan bahan yang sederhana. Mulai dari konten tempat liburan anak, kegiatan keren untuk anak baik indoor maupun outdoor.
Gak ada konten flexing barang atau ke tempat-tempat mewah. Penampilan mereka juga sederhana saja. Editannya pun simpel. Video yang sudah ditonton 2,7 miliar berjudul: *Keysha Bermain Mengisi Air Dalam Balon Daddy Finger Nursery Rhymes | Learn Colors With Balloons*. Video itu diupload pada 22 April 2019. Isinya tentang Keysha, anak kedua Zuni, yang diajak untuk mengenal warna lewat permainan berjudul Daddy Fingers.
Nantinya Keysha disuruh menebak warna balon yang udah dihias dengan karakter wajah dan ditempel di masing-masing jari Zuni. Sebelum menebak warna, Zuni menyanyikan lagu berjudul Daddy Fingers Nursery Rhymes. Kalau tebakannya benar, balon itu nantinya diisi air sampai penuh dan dipecahkan.
Channel Zuni and Family jadi oase di tengah banyaknya channel yang didominasi flexing, prank sensasional, hingga strategi clickbait. Tanpa sensasi, tanpa hedonisme, tanpa narasi “dari nol” yang dibumbui air mata palsu. Mayoritas konten kreator lain mengejar pasar remaja hingga dewasa muda. Mengapa? Karena mereka bisa dijual iklan gaya hidup, produk kecantikan, gadget, dan tren baru.
Tapi Zuni and Family mengambil jalur sepi tapi penuh emas: yakni anak-anak usia dini. Anak-anak menonton video yang sama berulang-ulang, mereka jarang skip iklan. Mereka tidak peduli apakah kontennya “trending” atau “high budget”, yang penting menyenangkan dan familiar. Dengan konten yang aman, ringan, dan penuh warna, mereka membangun loyalitas pasif namun sangat stabil. Ini bukan soal viralitas, tapi retensi jangka panjang.
Zuni and Family hampir tidak pernah memamerkan: rumah mewah, outfit branded, gadget mahal, dan mobil sport. Bandingkan dengan banyak konten kreator yang menjadikan “kemewahan” sebagai strategi branding. Bahkan anak-anak pun kini kerap diekspos sebagai simbol “kesuksesan” orang tuanya. Dikasih mobil listrik mainan, kamar ala hotel bintang lima, sampai ulang tahun dengan pesta setara wedding organizer kelas atas.
Zuni and Family menolak jadi bagian dari budaya “naik kelas demi konten.” Mereka tetap konsisten dengan identitas sederhana dan menunjukkan bahwa penonton, terutama keluarga, lebih tertarik dengan konten edukatif. Bukan mengintimidasi apalagi flexing gak penting.
Semoga semakin banyak konten kreator yang menginspirasi ya. Zuni and Family, kalian keren!


