Miris! Di Kupang, pelajar & mahasiswa justru lebih rentan HIV/AIDS ketimbang PSK!

Published:

Wah, perilaku seksual remaja di Kupang, gawat! Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur baru aja ungkap data yang sangat mengkhawatirkan. Per September 2025, tercatat ada sebanyak 2.539 kasus HIV/AIDS di Kota Kupang. Tapi yang bikin hati miris adalah “komposisi” penderitanya.

Ternyata jumlah pelajar dan mahasiswa yang terjangkit HIV/AIDS ternyata lebih banyak daripada pekerja seks komersial atau PSK. Sekretaris KPAD Kota Kupang, Julius Tanggu Bore, melaporkan dari total 2.539 kasus, pelajar dan mahasiswa menyumbang 10 persen atau 254 kasus. Sementara Wanita Pekerja Seks Langsung (WPSL) atau PSK hanya 8 persen atau 203 kasus. Ini artinya, anak-anak sekolah yang seharusnya fokus belajar justru lebih rentan tertular HIV/AIDS dibanding kelompok yang secara profesi memang berisiko tinggi.

Dan yang paling bikin shock, Julius mengungkap adanya praktik prostitusi yang melibatkan pelajar SMP. Bukan cuma rumor atau kasus kecil-kecilan, tapi praktiknya udah meluas dan lebih masif dari yang dibayangkan. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kupang, dr. Marciana Halek, menyatakan ada delapan SMP yang terpapar kekerasan seksual berbasis elektronik atau KSBE. KSBE ini berupa konten asusila, pornografi, hingga prostitusi antar-pelajar yang difasilitasi secara online. Tapi menurut hasil penelusuran KPAD, jumlah sekolah yang terlibat jauh lebih banyak dari delapan sekolah yang diberitakan itu.

Yang lebih mencengangkan, banyak anak-anak ini yang memiliki pemahaman sangat rendah tentang infeksi menular seksual dan HIV/AIDS. Beberapa pelajar bahkan mengaku kencan dengan tiga hingga delapan orang dalam sehari. Tarif yang mereka patok bervariasi. Mulai dari Rp50 ribu sekali transaksi. Mirisnya lagi, mereka nggak mau pakai kondom karena takut kehilangan pelanggan. Bahkan ditemukan praktik tukar pasangan antar-pelajar, seperti layaknya pergaulan bebas tanpa batas.

Nah, pertanyaan besarnya, kenapa ya anak-anak seusia SMP bisa terjerumus dalam dunia gelap kayak begini? Menurut dr. Marciana, ada satu faktor utama yang jadi pemicu. Yaitu fatherless atau tidak adanya figur ayah dalam hidup mereka. “Karena fatherless, mereka kehilangan figur bapak di rumah, mendapat kekerasan, dan rumah tidak lagi menjadi tempat pulangnya mereka,” jelas Marciana. Ketiadaan figur ayah membuat anak-anak ini kehilangan rasa aman dan perlindungan di rumah. Mereka kemudian mencari pelarian, baik untuk kebutuhan ekonomi maupun ikatan emosional, ke luar rumah.

Dalam menghadapi situasi darurat ini, KPAD Kota Kupang sudah menjalankan berbagai program pencegahan. Tapi Julius merasa ini belum cukup. KPAD meminta dukungan Pemerintah Kota Kupang untuk menerbitkan edaran resmi agar setiap sekolah wajib menyelenggarakan sosialisasi HIV/AIDS minimal satu kali dalam setahun. Wali Kota Kupang, Christian Widodo, juga merespons serius permasalahan ini. “Kami sementara siapkan edaran untuk mewajibkan setiap sekolah di Kota Kupang melaksanakan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS.” “Minimal tiga kali dalam setahun,” kata Christian. Christian juga menekankan pentingnya peran orang tua, termasuk ASN. Selain itu, dia juga ingin mengaktifkan kembali Warga Peduli AIDS atau WPA di 51 kelurahan se-Kota Kupang. Ini untuk mendeteksi kasus baru, melakukan edukasi, dan yang paling penting, mengurangi stigma terhadap ODHA.

Nah guys, kasus di Kupang ini bukan cuma masalah kesehatan semata ya! Ini itu alarm keras buat kita semua bahwa ada yang salah dengan sistem perlindungan anak dan pendidikan seksual di Indonesia. Ketika pelajar SMP sudah terlibat prostitusi dan lebih rentan HIV/AIDS daripada pekerja seks komersial, itu artinya ada krisis yang sangat serius. Krisis keluarga, di mana anak-anak kehilangan figur ayah dan perlindungan di rumah sendiri. Krisis pendidikan, di mana pengetahuan tentang kesehatan reproduksi masih sangat minim. Dan krisis ekonomi, di mana anak-anak terpaksa mencari uang dengan cara yang membahayakan masa depan mereka. Kita nggak bisa lagi menutup mata atau malah menyalahkan anak-anaknya. Mereka adalah korban dari sistem yang gagal melindungi mereka. Yuk, kita sama-sama peduli dan bergerak untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img