Stop Diskriminasi Guru Agama Kristen!

Published:

Sedih bener nasib guru honorer Agama Kristen. Kemaren dikabarin ada yang cuma digaji 300 ribu sebulan, eh sekarang malah ada yang nggak digaji selama hampir 2 tahun. Ini yang dialami Dominikus (49), seorang guru agama Kristen di sebuah SMP Negeri di Jakarta Selatan. Padahal dia udah mengabdi di SMP itu selama 2 tahun. Dia sendiri ngaku kalo kerja di sana karena sebelumnya nggak ada guru Agama Kristen di sekolah itu. Sekolah sempat menolak pas dia dateng karena ngaku nggak punya upah untuk membayar.

Dominikus pun menyediakan diri secara suka rela. Dia merasa harus mengabdi karena di sekolah itu ada 29 murid beragama Kristen yang butuh pendidikan Agama Kristen di sana. Satu tahun pertama ngajar, gaji Dominikus terbantu dengan adanya dana diakonia dari gereja. Setiap satu bulan sekali ia mendapat biaya uang transportasi sebanyak Rp 350 ribu. Meskipun pengajuan bantuan itu terbilang sulit karena surat keterangan dari sekolah yang nggak keluar juga. Bahkan Dominikus ngaku sampe harus berdebat sama pihak sekolah soal surat keterangan yang walau akhirnya dikeluarin tetep aja tanpa nomor kop.

Dengan ketidakjelasan gaji, Dominikus tetep harus ngajar 29 murid yang ada selama 28 jam per bulan. Ia juga menyusun 150 soal saat ujian dan melaksanakan rekap nilai ke siswa. Untungnya, para orangtua murid yang anak-anaknya diajar olehnya dengn murah hati ngumpulin iuran sebesar 600 sampe 700 ribu per bulan, secara sukarela. Jadi, Dominikus menerima hampir 1 juta rupiah dari iuran wali murid dan dana transportasi gereja. Tapi, sekolah tetap nggak menggajinya.

Untuk dapetin gaji itu, Dominikus udah usaha nanya ke bagian tata usaha. Tata usaha dengan enteng bilang, ia belum didaftarkan di data pokok pendidikan (dapodik). Udah gitu aja jawabannya tanpa ada solusi.

Kisah miris guru honorer agama Kristen nggak cuma dialami Dominikus aja. Ada yang digaji Rp 300 ribu dengan jumlah 34 jam mengajar per bulan di sebuah SD Negeri di Jakarta Timur. Ada juga guru Agama Kristen di SD Negeri di Jakarta Timur, yang ngajar di dua sekolah dengan upah Rp 500 ribu per bulan dari masing-masing sekolah. Bahkan ada juga guru di SMK Negeri di Jakarta Barat yang dibayar 50 ribu per jam karena dijadiin estrakurikuler dengan 21 murid.

Pengabaian jasa guru Kristen ini gak bisa dibiarkan. Setiap murid berhak memperoleh Pelajaran agama sesuai dengan agamanya masing-masing. Karena itu negara wajib menyediakan anggaran untuk guru-guru agama Kristen di seluruh Indonesia. Dinas Pendidikan DKI Jakarta harus segera turun tangan untuk menangani masalah ini.

Stop diskriminasi di dunia pendidikan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img