Arab Saudi Masih Otoriter dan Kejam

Published:

Jakarta, PIS – Perkembangan Arab Saudi yang mulai terbuka dan modern, belum cukup menggembirakan. Dalam waktu dekat Arab Saudi akan menghukum mati tiga warganya karena menentang mega proyek NEOM.

Sejak diangkat menjadi Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman berambisi memodernisasi Saudi. Demi mencari sumber pemasukan baru selain dari minyak, pangeran meluncurkan sejumlah proyek pembangunan ambisius.

Salah satunya proyek NEOM, yang dibangun untuk mengembangkan investasi dan pariwisata Saudi. Kota futuristik NEOM akan dibangun di Tabuk, barat laut Saudi yang menghadap Mesir di seberang Laut Merah.

Tapi proyek kontroversial yang dikenal dengan nama The Line itu mengakibatkan terjadinya penggusuran paksa. Para penolak ditangkap dengan dakwaan terorisme dan dijatuhi hukuman mati.

Selain tiga terpidana mati, ada tiga orang lainnya yang divonis penjara. Ada yang dihukum 27, 35 dan 50 tahun penjara. Ahli PBB mendesak Saudi menyelidiki tuduhan penyiksaan dan perlakuan buruk pada keenam pria tersebut selama di penjara.

PBB juga meminta Arab Saudi meninjau kembali vonis hukuman terhadap enam pria tersebut karena dianggap melewati batas. Keenam orang itu telah didakwa berdasarkan undang-undang terorisme yang terlalu bias.

Dengan undang-undang itu, pemerintah Saudi memberangus siapapun yang dianggap menentang kekuasaan raja. Gambaran Arab Saudi modern dan terbuka ternyata hanya di permukaan saja.

Kerajaan masih menjalankan pemerintahan dengan tangan besi. Mari dorong Arab Saudi untuk lakukan reformasi seutuhnya. Stop kesewenang-wenangan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img