Kalau program Makan Bergizi Gratis (MBG) meniru yang sudah dilakukan SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Solo, kayaknya gak akan dapat sorotan negatif seperti saat ini. Di sana program semacam ini sudah berjalan selama 10, namanya Dapur Sehat. Bukan saja mendapat respon positif baik dari murid-murid maupun orang tuanya, bahkan sudah mendapat penghargaan dari Kementerian Kesehatan. Dan yang pasti, gak ada drama anak-anak yang keracunan makanan.
Dapur Sehat SD Muhammadiyah 1 Ketelan, merupakan program kantin sekolah yang dirancang untuk mendukung kesehatan dan prestasi siswa melalui penyediaan makanan bergizi. Program ini didirikan pada tahun 2015 sebagai upaya penjaminan mutu pendidikan, memastikan anak-anak dapat belajar dengan baik, sehat, dan berprestasi. Nah, setiap harinya ada sekitar 615 anak yang makan siang di dapur ini. Semua bahan di Dapur Sehat ini selalu segar. Makanan pun juga di masaknya juga sejak pagi, jadi bukan makanan yang udah dingin, basi, atau diproses kilat ala pabrik. Para juru masaknya pun memasak sambil pakai masker, sarung tangan, dan ikutin standar kebersihan. Sistemnya juga prasmanan, jadi anak-anak bisa ambil nasi, sayur, lauk, semua masih hangat sesuai selera mereka.
Kepala Sekolah, Sri Sayekti sampai bilang: Dapur Sehat ini bukan cuma soal kasih makan. Tapi juga bagian dari pembelajaran anak-anak. “Kantin itu nggak bisa dipisahin dari pembelajaran. Tujuannya biar anak-anak sehat, bisa belajar dengan baik, dan berprestasi,” ujarnya. Jadi murid nggak sekadar kenyang, tapi juga belajar soal disiplin, kebersihan, sampai tanggung jawab. Misalnya, mereka diajarin untuk nggak menyisakan makanan dan cuci sendiri peralatan makannya. Keren banget, kan? Makanya nggak heran kalau Kementerian Kesehatan sampai dua kali ngasih predikat “Kantin Sehat Nasional” buat dapur ini.
Jadi jelas banget, konsep kayak gini udah terbukti berhasil, bukan sekadar eksperimen. Tapi belakangan ini sempat ada kabar yang bikin resah para orang tua murid di sekolah ini. Katanya Dapur Sehat ini mau diganti sama program MBG yang lagi “bermasalah” itu. Orang tua murid langsung pada was-was, takut anaknya ikut jadi korban kayak kasus keracunan di daerah lain. Tapi untungnya, wali kota Solo, Respati Ardi, langsung turun tangan. Dia pastikan Dapur Sehat sekolah itu nggak bakal digantiin MBG. Malah justru bakal dijadikan contoh buat kota lain. Pemkot Solo bahkan siap ngembangin model ini biar makin tepat sasaran. Salah satu orang tua murid, Indri, juga bilang: dia jauh lebih tenang anaknya makan dari Dapur Sehat. Memang harus bayar Rp9.000 – Rp10.000 per porsi, tapi dijamin aman, segar, dan jelas lebih sehat.
Nah, ini jadi pertanyaan besar: Kalau di Solo udah ada model yang jelas terbukti berhasil, sehat, aman, dan malah dapat penghargaan, Kenapa sih konsep kayak gini nggak ditiru aja buat MBG? Salah satu contohnya, Dapur Sehat ini udah nunjukin kalau makanan lokal yang dimasak segar setiap hari bisa jauh lebih baik. Anak-anak bukan cuma sehat, tapi juga belajar disiplin dan belajar mencintai makanan lokal. Jadi, kalau bener-bener mau serius bikin anak Indonesia sehat lewat MBG, Harusnya model kayak Dapur Sehat SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo ini yang dijadikan standar nasional nggak sih? Udah terbukti, udah ada penghargaan, dan jelas bikin orang tua lebih tenang dan senang. Jangan sampai program besar kayak MBG malah gagal cuma gara-gara salah konsep. Karena yang dipertaruhkan bukan cuma uang negara, tapi juga kesehatan anak-anak kita. Yuk, MBG, saatnya evaluasi besar-besaran dan contek yang udah berhasil!


