Imam Katolik Dosen Unika Diduga Lecehkan Mahasiswi, Kampus Malah Tutup Mata?

Published:

Pelecehan seksual oleh tokoh agama kembali terjadi. Kali ini menimpa mahasiswi di Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Pelakunya adalah ILS, seorang imam Katolik sekaligus dosen di kampus tersebut. Korbannya sebut saja namanya Christina.

Dia sudah mengalami perlakuan tak pantas ini sejak awal ia masuk kuliah. Mulanya, ILS hanya ngirim chat mesra kayak panggilan “my sweet honey”, “my darling”, “kekasihku forever”, dan “sayang”. Tapi Christina memilih diam dan serba salah. Selain, karena ILS sebagai tokoh agama dan juga dosennya. ILS ternyata ikut membantu biaya kuliahnya, dan saking dekatnya Christina memanggilnya ‘Opa’.

Tapi lama-lama, kelakuan ILS makin kelewat batas. Yang awalnya hanya ngirim chat mesra, belakangan dia sudah berani pegang-pegang tubuh Christina. Seperti pegang tangan, bahkan sampai memeluk dan mencium. Saat Christina menolak, ILS hanya tertawa dan berkata, “Ini sangat manusiawi, sayang.” Puncak pelecehan terjadi di ruang kerja ILS dekat kampus dan rumah Uskup. Christina datang hanya untuk mencari buku yang dipinjamkan oleh ILS. Saat Christina lagi milih buku, ILS tiba-tiba mendekat dari belakang, lalu memeluk dan meraba bagian sensitif tubuhnya.

Christina kaget, berontak, dan langsung keluar ruangan sambil menangis ketakutan. ILS bukannya berhenti, ia malah makin menjadi-jadi. Dia mengirim pesan-pesan vulgar kepada Christina, dan juga menanyakan hal-hal sensitif, termasuk ukuran bra Christina. Christina marah dan menegur ILS, tetapi ILS tidak menggubrisnya.

Setelah merasa tidak aman, Christina akhirnya melapor kepada keluarganya. Orangtuanya syok dan marah setelah mendengar kejadian itu. Keluarga Christina meminta ia memutus semua kontak dengan ILS. Mereka juga berjanji menanggung semua biaya kuliahnya agar Christina tidak lagi bergantung pada ILS. Christina lalu pindah kos untuk menjaga keamanan diri. Ia lalu melapor ke psikolog kampus dan Satgas PPKPT dengan membawa bukti chat dan kronologi lengkap.

Setelah laporan disampaikan, ILS justru mengintimidasi keluarga Christina. ILS memutarbalikkan cerita dan menuduh Christina melanggar aturan karena pulang kampung. Christina melihat kampus justru mulai terkesan melindungi pelaku. Beberapa staf kampus bahkan pura-pura tidak tahu bahwa ada laporan pelecehan seksual. Satgas kampus pun lebih sibuk mengurus aturan pakaian dan masalah percintaan mahasiswa daripada menangani kasus kekerasan seksual. Christina merasa sama sekali tidak mendapat perlindungan dari kampus. Baru setelah kasus ini viral, kampus akhirnya memutuskan memberhentikan ILS.

Kasus Christina jadi contoh bagaimana lembaga pendidikan gagal melindungi perempuan ketika pelakunya berasal dari lingkaran dalam mereka. Sikap kampus yang tertutup membuat Christina menjadi korban dua kali. Pertama, ia dilecehkan oleh orang yang seharusnya dihormati dan dipercaya. Kedua, ia tidak dilindungi oleh kampus yang seharusnya menjaga keselamatan mahasiswi. Dan inilah yang jadi salah satu pemicu kasus pelecehan seksual masih menjadi masalah utama di lembaga pendidikan.

Tak hanya di universitas, tetapi juga di banyak lembaga pendidikan lain. Seperti di pesantren, sekolah berasrama, sekolah umum, maupun lembaga keagamaan lainnya. Dan polanya sama, yaitu relasi kuasa, dan budaya tutup mulut. Lembaga pendidikan lebih sibuk menjaga nama baik daripada melindungi korban. Karena itu, negara harus ikut turun tangan untuk menghentikan budaya “pelaku dibiarkan lolos” dalam kasus-kasus kekerasan seksual. Aparat penegak hukum juga harus berani memproses pelaku, termasuk bila ia pemuka agama.

Kasus Christina adalah peringatan keras bagi kita semua. Keberpihakan kepada korban adalah satu-satunya cara menghentikan kekerasan seksual yang terus berulang. Yuk, kita lawan pelecehan seksual!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img