Di media sosial kita sering disuguhi pamer kemewahan. Tapi di sisi lain, ada cerita nyata yang bikin hati kita teriris. Seorang ibu memutuskan mengakhiri hidupnya dan kedua anaknya, karena kemiskinan yang menjeratnya.
Tragedi ini terjadi di Bandung, tepatnya di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ibu itu berinisial EN, usia 34 tahun. Tragisnya, sebelum mengakhiri hidup, ia meracuni dua anaknya. Anak pertama, AA, berusia 9 tahun. Anak kedua, AAP, masih bayi, baru 11 bulan. Ketiganya ditemukan meninggal di kontrakan sederhana tempat mereka tinggal. Yang menemukan adalah suaminya, YS, saat pulang kerja subuh-subuh. Polisi bilang pintu rumah terkunci dari dalam. Tidak ada tanda kekerasan orang luar. Jadi besar kemungkinan memang semua dilakukan oleh EN sendiri. Yang bikin tambah sedih, ada surat wasiat yang ditempel di dinding.
Isinya jujur dan pilu banget. EN menulis kalau dia capek lahir batin. Ia merasa terjebak utang yang tidak jelas ujungnya. Ia juga bilang suaminya sering berbohong dan tidak bertanggung jawab. Di situ dia merasa makin sendirian. Paling nyesek, dia tulis: “Lebih baik saya masuk neraka daripada melihat anak-anak saya hidup sengsara.” Ia juga menulis pesan khusus buat anak-anaknya: semoga kelak mereka masuk surga, karena ia tak tega melihat mereka hidup susah. Jadi alasannya bukan benci, tapi justru karena terlalu sayang—hanya saja salah jalan.
Pemerintah ikut bereaksi. Menko PMK Pratikno menyebut ini tragedi kemanusiaan dan jadi alarm besar buat negara. Katanya, kita tidak boleh menutup mata lagi, apalagi ini bukan kasus pertama. Benar saja, sebelumnya di Malang tahun 2023 ada ibu yang meracuni empat anak lalu bunuh diri. Di Brebes tahun 2022, ada ibu yang nekat melukai tiga anaknya karena depresi kemiskinan. Bahkan di Nias tahun 2020, kasus mirip juga terjadi—ibu menusuk anak-anaknya karena putus asa. Semua punya pola sama: ekonomi, tekanan mental, rasa malu, dan akhirnya putus harapan.
Mereka bukan ibu yang jahat. Mereka adalah ibu-ibu yang kalah dalam perang panjang melawan keadaan. Jadi, ini bukan sekadar berita kriminal.
Ini soal sistem dan juga soal kita, masyarakat, yang kadang lebih sibuk lihat hedonisme di layar daripada jeritan orang di sekitar. Kisah ibu EN dan dua anaknya seharusnya jadi pengingat: ada orang-orang yang butuh ditolong, sebelum semua terlambat. Tragedi ini nunjukin kalau masalah ekonomi dan mental itu nyata. Kita perlu peduli, lebih peka, dan lebih berani menuntut solusi. Karena nyawa yang hilang, bukan sekadar berita. Semoga nggak ada lagi ibu yang merasa sendirian sampai harus ambil jalan seperti ini. Jangan tunggu tragedi, baru kita peduli. Yuk, lebih peka terhadap sesama!


