Jakarta, PIS – Upaya pasangan beda agama biar bisa nikah di Indonesia, belum selesai. Mahkamah Konstitusi (MK) baru aja nolak permohonan judicial review (JR) UU Perkawinan, terutama Pasal 2 dan 8.
Dua pasal itu dinilai ngehambat pasangan beda agama buat nikah, Bestie PIS. Dalam putusannya, MK negasin dua pasal itu konstitusional. Artinya, norma itu nggak ngelanggar hak konstitusi warga dan udah sejalan dengan UUD 1945.
Kata Hakim MK, Wahiduddin Adams, perkawinan dalam konstitusi kita, pasal 28B, nggak cuma sebatas soal perkawinan, tapi mensyaratkan perkawinan yang sah. Dia juga bilang pencatatan oleh negara sekedar kewajiban administratif.
Sedangkan soal sah-nggaknya dkembaliin ke aturan agama masing-masing. Dalam tafsir MK, pasal 2 tadi nggak ngehambat kebebasan setiap orang untuk nikah. Tapi, cuma koridor pelaksanaan perkawinan agar dinyatain sah sesuai ketentuan agama.
MK juga negasin norma itu nggak terkait sama pilihan agama seseorang. Sebab, milih agama tetap jadi hak setiap warga. MK juga nggak ngelihat ada perubahan kondisi tentang persoalan konstitusionalitas pernikahan.
Sebelumnya, Ramos Petege asal Papua ngajuin JR dua pasal itu, Bestie PIS. Dia yang beragama Katolik gagal nikahin pasangannya yang beragama Islam. Penyebabnya, Pasal 2 dan 8 UU Perkawinan.
Pasal 2 ayat 1 ditafsirin bahwa perkawinan sah apabila dilakukan dalam satu agama. Ramos terus minta MK batalin ayat bermasalah itu. Penolakan MK itu mungkin bikin kecewa bagi pasangan beda agama yang mau nikah.
Tapi, itu keliatannya nggak akan bikin mereka mundur. Asal Bestie PIS tahu, pernikahan beda agama sering banget terdengar di Indonesia. Bagi yang punya tabungan cukup, bisa nikah di luar negeri.
Tapi, ada juga yang nggak sungguh-sungguh pindah agama, asal bisa nikah. GIMANA MENURUT BESTIE PIS?


