Artikel di Majalah Tempo edisi 20 Oktober bener-bener keterlaluan. Masa penulis artikel itu nyamain mantan Presiden Jokowi dengan Hitler? Btw, penulis artikel itu bernama Sukidi. Sukidi bilang, Jokowi itu mirip Adolf Hitler di Jerman. Hitler membunuh demokrasi setelah dia terpilih jadi pemimpin secara demokratis di Jerman. Ini juga yang dilakukan oleh Jokowi, kata Sukidi.
Jokowi membunuh demokrasi dengan cara yang lebih halus, katanya. Yang dilakukan Jokowi untuk membunuh demokrasi antara lain gaya kepemimpinan yang otoriter, mengintervensi hukum, menekan kebebasan sipil, dan lainnya. Langkah-langkah itu perlahan tapi pasti mematikan demokrasi di Indonesia, katanya. Soal intervensi hukum, dia menyebut contoh keputusan Mahkamah Konstitusi yang memungkinkan Gibran Rakabuming Raka bisa nyalon sebagai wakil presiden.
Sukidi menganggap putusan MK itu adalah bentuk eksploitasi konstitusi buat nepotisme. Atas dasar itu, Sukidi menyebut Jokowi sebagai ‘Hitler Jawa’. Sebenarnya bukan kali ini Jokowi disamakan dengan tokoh atau karakter yang dianggap buruk.
Sebelumnya, Jokowi pernah dituding Pinokio Jawa dan Firaun Jawa. Dua istilah itu punya satu tujuan yang sama. Ingin mendelegitimasi pamor Jokowi yang masih moncer sampai di akhir masa jabatannya. Kini, muncul istilah baru: Hitler Jawa.
Apa yang ditulis Sukidi dalam artikelnya itu jelas berlebihan. Nggak ada bukti yang solid bahwa Jokowi benar-benar merancang berbagai langkah untuk membunuh demokrasi. Memang sejumlah studi menunjukkan skor kebebasan sipil kita belakangan ini menurun. Tapi itu kan bukan berarti demokrasi mati, apalagi dibunuh. Soal putusan MK itu, Mahkamah Kehormatan MK sudah memberikan putusan. Putusan MK itu nggak dikoreksi Mahkamah Kehormatan MK.
Dengan kata lain, Gibran sah ikut sebagai kontestan dalam Pilpres 2024. Terlepas dari kontroversi putusan MK itu, Gibran tetap dipilih rakyat dan bahkan keluar sebagai wakil presiden terpilih. Bukan nggak mungkin lho Gibran bisa kalah dalam pemilihan yang demokratis itu. Btw, kabarnya Sukidi ini punya reputasi sebagai sosok yang superlatif. Kalau memuji orang yang dia suka, pujiannya berlebihan.
Sebaliknya, kalau dia nggak suka dengan orang, makiannya berlebihan. Kabarnya juga Sukidi dekat dengan PDI-Perjuangan. Jadi, ya nggak heran kalo artikelnya yang berlebihan itu ya.
Yuk, kritik penguasa secara proporsional!


