Presiden AS Donald Trump bener-bener gabut deh. Bisa-bisanya dia posting gambar dirinya mengenakan jubah Paus, pemimpin umat Katolik dunia. Unggahan itu muncul di akun Instagram resminya @realdonaldtrump pada 3 Mei 2025. Kemudian diposting ulang oleh akun resmi gedung putih @whitehouse dan akun kepresidenan @potus.
Tak ayal, postingan itupun dikecam banyak kalangan, termasuk Keuskupan Agung New York. “Tidak ada yang lucu atau cerdas dari gambar ini, Tuan Presiden,” tulisnya dalam akun X-nya. “Kami baru saja menguburkan Paus tercinta kami, dan para kardinal akan memasuki konklaf untuk memilih penggantinya. Jangan menghina kami,” lanjut mereka. Kecaman juga datang dari Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ted Lie. “Sebagai Katolik, saya sangat tersinggung Donald Trump mengejek umat Katolik,” tulisnya melalui akun X-nya. Ted juga meminta agar Trump lebih fokus untuk menurunkan harga. “Ekonomi Amerika mencatat pertumbuhan PDB negatif kuartal lalu. Itu yang seharusnya dia pikirkan, bukan mengejek umat Katolik,” lanjutnya.
Kecaman juga datang dari para pengguna media sosial. Banyak yang menganggap tindakan Trump sebagai penghinaan terhadap Gereja Katolik. “Menyinggung saya sebagai seorang Katolik,” tulis seorang netizen. “Tidak dapat diterima! Presiden AS membuat lelucon seperti ini. Paus baru saja wafat. Sungguh memalukan,” tulis akun lainnya. “Mengenakan jubah Paus demi lelucon atau popularitas melampaui batas—ada hal-hal yang harus tetap sakral,” tulis netizen yang lainnya lagi.
Kelakar Trump terkait Paus bukan kali ini saja dilakukan. Sebelumnya Trump juga berkelakar kalau dirinya mengaku ingin menjadi Paus berikutnya. Kelakarnya itu dia sampaikan saat Gereja Katolik bersiap untuk memilih pemimpinnya dalam konklaf setelah kematian Paus Fransiskus. Keinginan Trump tentu saja mengada-ngada. Karena dia sendiri bukanlah seorang Kardinal, lebih dari itu dia juga bukan pemeluk Katolik. Tapi kelakar Trump mendapat pembelaan dari Wakil Presiden AS, James David Vance. Vance yang merupakan penganut Katolik menganggap lelucon Trump sebagai sesuatu yang biasa. “Secara umum, saya setuju orang boleh bercanda dan tidak setuju dengan perang bodoh yang membunuh ribuan warga negara saya,” ucapnya.
Sebagaimana kita ketahui, Paus Fransiskus baru saja meninggal dunia. Pemimpin umat Katolik ke 266 tersebut meninggal pada 21 April 2025 lalu. Paus meninggal setelah sebelumnya terkena penyakit stroke yang menyebabkan koma dan gagal jantung yang tidak dapat dipulihkan. Sesuai tradisi, setelah meninggalnya Paus, akan dipilih kembali pemimpin umat Katolik berikutnya dalam sebuah acara yang disebut Konklaf. Yaitu sebuah pertemuan Dewan Kardinal dari seluruh dunia yang diadakan secara tertutup dan rahasia. Nah rencananya, Konklaf kali ini akan dimulai pada 16 Mei 2025.
Mungkin dalam konteks itulah Trump membuat lelucon itu. Tentu saja lelucon itu sangat-sangat tidak pantas. Apalagi itu dilakukan oleh seorang Presiden AS. Negara yang selama ini mengklaim diri sebagai negara demokratis yang menghargai keberagaman. Wajar kalau umat Katolik dunia mengecamnya. Hormati kesakralan setiap agama!


