Survei SMRC Sebut Mayoritas Publik Indonesia Nggak Tahu Aksi 212

Published:

Tahu aksi 212? Itu lho, aksi yang katanya ‘meledak’ banget pada 2 Desember 2016. Inisiator aksi itu setiap tahun ngadain ‘reuni’ juga, termasuk tahun ini. Yang menarik, pamor aksi itu ternyata nggak sebesar klaim para inisiatornya. Waktu itu aksi ini dipimpin oleh Rizieq Shihab dan FPI, yang jadi salah satu momen politik paling panas jelang Pilkada DKI Jakarta 2017.

Gerakan itu awalnya muncul buat mendesak penindakan dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI saat itu. Yaitu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Walaupun isunya Lokal, soal Pilgub Jakarta, tapi gaungnya meluas ke nasional. Narasinya pun berubah dari isu hukum jadi penggalangan kekuatan politik berbasis identitas.

Nah, sembilan tahun berlalu, aksi ini bakal diperingati lagi pada 2 Desember 2025 atau hari ini. Tapi pertanyaan pentingnya, seberapa besar pamor aksi 212 di mata publik? Buat ngejawab itu, kita bisa lihat dari survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). SMRC melakukan survei kepada WNI yang berusia 18 tahun ke atas atau sudah menikah secara acak apakah mereka tahu tentang Aksi 212. Dan ternyata, hasilnya mengejutkan!

Survei nasional SMRC yang dilakukan Desember 2023 menunjukkan bahwa cuma 39% publik Indonesia yang tahu atau pernah dengar soal Aksi 212 ini. Artinya, 61% masyarakat Indonesia, mayoritas, nggak tahu sama sekali tentang gerakan 212. Padahal aksi itu bisa dibilang mega-event politik yang bikin geger satu negara loh! Ini menarik sih, karena aksi ini pernah jadi headline setiap hari, dibahas berbulan-bulan, plus tiap tahun ada reuninya. Tapi tetap aja, ternyata mayoritas masyarakat nggak tau dengan isu tersebut.

Nah yang menariknya lagi, dari 39% orang yang tahu atau pernah dengar 212 tadi, sikap publiknya juga kebagi dua. Dari kelompok yang tahu itu, 45% diantaranya bilang setuju dengan aksi 212. 50% nya nggak setuju. Dan 5% sisanya malah memilih nggak jawab sama sekali. Jadi meskipun ada yang tau, tingkat dukungan terhadap 212 tetep kecil. Bahkan malah lebih banyak yang nggak mendukung. Ini jelas makin nunjukin bahwa 212 bukan gerakan yang punya basis massa sebesar yang digambarkan selama ini.

Kesimpulan dari data SMRC ini cukup jelas ya. Dengan segala eksposur media, liputan besar-besaran, dan reuni tahunan, artinya aksi 212 tetep nggak dikenal oleh mayoritas publik Indonesia. Bahkan di kelompok yang tau pun, dukungannya kecil dan cenderung melemah. Nah, ini berarti Gerakan politik berbasis agama, apalagi yang mengandalkan mobilisasi kemarahan dan identitas, nggak punya tempat kuat di hati masyarakat Indonesia secara umum.

Bisa jadi, 212 itu kelihatannya besar karena hadir di kota, diliput media, dan diwacanakan terus. Tapi secara nasional, gaungnya ternyata nggak nyampe sejauh yang dibayangkan. Banyak yang mengira 212 adalah simbol kekuatan politik Islam yang masif. Tapi survei ini ngasih gambaran lain. Sebagian besar orang Indonesia bahkan nggak familiar dengan gerakannya.

Jadi ketika reuni 212 digelar tiap tahun, mungkin gaungnya cuma terasa di lingkaran yang memang mengikuti isu itu. Sementara publik umum? Banyak yang nggak tahu atau nggak peduli. Ini mungkin juga nunjukkin kalau memori publik itu pendek banget terhadap isu politik yang berbasis sentimen. Begitu momennya lewat, pengaruhnya hilang dengan cepet.

Intinya, survei ini jadi alarm bahwa narasi “kekuatan besar 212” itu nggak sepenuhnya terbukti. Basis massanya nggak sebesar yang digembar-gemborkan. Baik dari segi pengetahuan publik maupun dukungan politik. Dan kalau sebagian pihak berharap jelang 212 tahun ini bakal muncul “gelombang besar” seperti tahun 2016, data SMRC justru bilang sebaliknya. Yaitu Gerakan 212 kehilangan relevansi nasionalnya.

Jadi, apa kesimpulannya? Gerakan 212 mungkin punya momen besar di 2016, tapi pengaruhnya nggak sebesar yang dibayangkan. Mayoritas publik Indonesia justru nggak familiar dengan gerakan ini. Dan dari yang familiar pun, lebih banyak yang nggak setuju. Itu sebabnya 212 Mart yang memanfaatkan ‘nama besar’ Aksi 212 nggak begitu diterima publik. Banyak gerainya yang bertumbuhan dalam waktu yang relatif singkat. Ditambah, 212 Mart diterpa skandal investasi bodong dan pengelapan dana umat seperti yang terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 2020.

Yuk, beragama dengan akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img