#AllEyesOnBandung Trending, Ada Apa?

Published:

Tagar #AllEyesOnBandung trending di media sosial. Konteksnya, dua kampus besar di Jalan Tamansari, Kota Bandung, disebut-sebut jadi medan tindakan represif kepolisian. Dua kampus itu adalah Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas).

Kronologinya dimulai saat mahasiswa dan massa aksi menggelar demo di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada 1 September lalu. Aksi itu berlangsung damai pada siang hari. Tapi menjelang malam, suasana memanas. Kepolisian mendorong demonstran membubarkan diri yang memicu bentrokan antara massa dan kepolisian. Puluhan demonstran terluka dan dievakuasi ke Aula Unisba yang dialih-fungsikan jadi posko medis darurat bersama Unpas.

Situasi makin kacau saat malam hari, sekitar pukul 23.30. Kepolisian melakukan penyisiran pasca-demo ke kawasan Tamansari. Sebenarnya bentrokan sudah mereda, tapi kepolisian menembakkan gas air mata ke arah kampus. Data kampus menyebut 48 peluru gas air mata ditembakkan ke area Unisba. Akibatnya, 12 mahasiswa pingsan. Satpam dan relawan medis ikut tumbang. Bahkan, kabarnya, ambulans sulit masuk karena akses ditutup. Tim medis sampai harus jalan kaki membawa oksigen. Di Unpas, gerbang yang dibuka untuk evakuasi malah ikut diserang gas air mata. Fasilitas rusak, jendela pecah, mahasiswa terpaksa mengungsi ke dalam gedung. Video-video yang viral memperlihatkan asap tebal, suara tembakan gas, dan mahasiswa panik teriak minta tolong.

Tagar #AllEyesOnBandung, #AllEyesOnUnisba, dan #AllEyesOnUnpas langsung trending. Kepolisian panen kecaman dari netizen. Menurut LBH Bandung, penyerangan ke kampus sama saja melanggar kebebasan akademik dan hak konstitusional mahasiswa. “Negara harus tahu batas, dan hari ini batas itu telah dilanggar secara terang-terangan,” tulis LBH Bandung di akun Instagramnya.

Tapi di sisi lain, kepolisian punya versi yang berbeda. Menurut Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, tindakan itu bagian dari patroli besar pasca-aksi. Katanya, ada kelompok anarko yang memprovokasi, bahkan melempar molotov ke aparat. “Tim kemudian menembakkan gas air mata di jalan raya yang kemudian tertiup angin ke arah parkiran Unisba,” ucap Hendra. Dia menegaskan polisi nggak berniat menyerang kampus, apalagi masuk ke dalamnya. Dia mengaku kepolisian cuma bertahan dari serangan.

Menurut Rektorat Unisba, Harits Nu’man, saat kericuhan terjadi, ada kelompok massa yang sempat melakukan pemblokiran jalan. Kepolisian lalu melakukan penyisiran untuk membubarkan massa yang nggak dikenal itu. “Karena ini kan bukan area kampus kita. Ini adalah area publik ya. Namanya juga Jalan Tamansari, bukan jalan Unisba,” katanya. Dia menegaskan nggak ada aparat, TNI maupun Polri, yang masuk ke area kampus saat kericuhan berlangsung.

Tapi sebagian publik nggak terima sama penjelasan itu. Narasi “gas tertiup angin” dianggap nggak bisa menjawab kenapa ada 48 peluru gas air mata yang jelas-jelas masuk ke kawasan kampus Unisba. Publik juga ingetin soal aturan penggunaan gas air mata dalam Peraturan Kapolri Nomor 1 tahun 2009 yang harus proporsional dan preventif.

Aktivis dan mahasiswa mendesak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk bersuara. Mereka bahkan sudah me-mention akun resminya untuk minta bersikap tegas. Sampai video ini dibuat, belum ada respons dari Kang Dedi.

Kami dari PIS menyayangkan insiden bentrokan yang terjadi di Jalan Tamansari, Kota Bandung. Penyampaian aspirasi seharusnya dilakukan dengan damai dan beradab. Dan kami percaya mahasiswa sudah melakukannya dengan damai dan beradab. Tapi para penumpang gelap selalu hadir di setiap aksi demonstrasi. Mereka memprovokasi dan memicu bentrokan dengan kepolisian. Dan sayangnya, dalam bentrokan itu tindakan represif kepolisian nggak bisa dihindarkan.

Kita sepakat, kampus harus jadi ruang yang aman dan nggak boleh dimasuki aparat keamanan, Polri maupun TNI. Penegakan hukum yang terukur dan proporsional harus dilakukan bila terkait aktivitas di dalam kampus. Yang diutamakan adalah keselamatan seluruh civitas akademika. Itu harga mati yang nggak bisa ditawar. Kalau tindakan kepolisian nggak terukur dan nggak proporsional, bukan cuma mahasiswa yang jadi korban. Tapi juga relawan di posko medis dan korban bentrokan yang tengah ditolong. Semoga kasus ini nggak terulang lagi. Yuk, pastikan kampus tetap jadi ruang akademik yang aman!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img