ANEH! BUPATI PASAMAN BARAT IKUT-IKUTAN LARANG COLOR FUN RUN

Published:

Acara “Color Fun Run Pasbar” 2025 ditolak di Pasaman Barat (Pasbar), Sumatera Barat. Acara itu dianggap mempromosikan LGBT yang identik dengan simbol pelangi. Padahal, “Color Fun Run Pasbar” rencananya bakal digelar pada 27 Juli nanti. Tapi acara itu ditolak MUI dan sejumlah ormas Islam setempat. Mereka menganggap acara itu nggak sesuai sama ajaran Islam.

Ketua MUI Pasbar, Darmansyah, bilang warna-warna pelangi itu identik sama kaum homoseksual yang tercela dalam al-Qur’an. Dia juga bilang konsep acaranya mirip festival Holi, perayaan keagamaan umat Hindu yang juga pakai lempar-lemparan bubuk warna. “Islam melarang umatnya menyerupai praktik keagamaan dari agama lain,” katanya.

Atas dasar itu, MUI, Muhammadiyah, NU, Dewan Masjid Indonesia, Majelis Mujahidin Pasbar minta acara itu dibatalkan. Mereka juga mendesak pemerintah setempat nggak kasih izin acara itu. Mereka juga ngimbau umat Islam menjauhi acara itu biar menjaga kemurnian akidah dan terhindar dari budaya yang nggak sesuai syariat.

Nah, yang bikin tambah miris, Bupati Pasbar, Yulianto, setuju sama sikap MUI dan sebagian ormas Islam itu. “Kita sangat setuju, kita akan koordinasikan dengan instansi terkaitnya,” kata Yulianto. Lah, kok bapak asal manut aja sih? Emang bapak tahu Color Fun Run itu apa?

FYI, Color Fun Run itu lari santai tanpa kompetisi waktu yang biasanya dilakuin sejauh 3 Km, 5 Km, atau 10 Km. Peserta akan ditaburi bubuk warna, biasanya dari tepung jagung non-beracun, di beberapa titik sepanjang lintasan. Kalo peserta bisa mencapai titik finish, tubuhnya bakal penuh dengan bubuk warna-warni itu. The Color Run pertama kali digelar di Amerika Serikat tahun 2011. Setelah itu Color Run jadi tren global.

Color Fun Run mulai populer di Indonesia sekitar tahun 2014–2015. Acara Color Fun Run mulai bermunculan di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Terus, Color Fun Run itu kampanye terselubung kaum LGBT? Ya nggak lah!

Bapak, cuma gara-gara ada serbuk warna-warni, Color Fun Run nggak otomatis terkait sama LGBT. Komunitas Color Fun Run nggak pernah memberi dukungan ke kaum LGBT. Dalam Color Fun Run juga nggak ada simbol bendera pelangi 6 warna khas Pride kaum LGBT. Konsep bubuk warna-warni dalam acara Color Fun Run ya biar estetik aja. Supaya seru dan ketika difoto tampak kece. Jadi, tuduhan LGBT dalam acara Color Fun Run itu sama sekali nggak berdasar.

Warna-warni atau pelangi bukan punya komunitas tertentu doang. Warna-warni itu dipercaya bikin vibes jadi positif dan ceria. Terus, apakah Color Fun Run itu terkait ritual agama tertentu? Ya, nggak juga. Mungkin aja konsep acara Color Fun Run terinspirasi dari festival Holi di India. Tapi, dalam pelaksanaannya, Color Fun Run ya buat hiburan dan olahraga aja. Nggak ada unsur, doa, dan ritual yang khas Hindu.

Tujuan acara Color Fun Run sederhana, tapi penting. Promosiin gaya hidup sehat, seru-seruan bareng temen atau keluarga, dan membangun kebersamaan lintas agama. Jadi, kalau ada yang menganggap Color Fun Run copy-paste 100 persen agama lain, ya itu salah banget.

Apa yang dilakukan Bupati Pasbar soal Color Fun Run, sedikitnya mengandung 3 kesalahan. Pertama, dia nggak paham soal acara Color Fun Run, tapi main asal ngelarang acara itu begitu aja. Padahal, seorang pemimpin itu kalau bikin kebijakan, menolak atau menyetujui sesuatu, ya harus punya informasi yang memadai dulu. Baru kemudian dipilih mana yang lebih berat manfaat atau mudaratnya.

Kedua, sikap bupati yang ikut-ikutan menolak Color Fun Run menunjukkan dia sosok kepala daerah yang lemah. Dia gampang tunduk sama sekelompok ormas yang diklaim mewakili mayoritas. Padahal, sebagai pemimpin dia harus jadi penengah dan jembatan kepentingan berbagai kelompok yang berbeda.

Ketiga, kepala daerah itu cuma boleh tunduk sama konstitusi dan hukum. Dia harus pasang badan kalau ada kelompok, meskipun diklaim mayoritas, yang ingin melanggar konstitusi dan hukum. Percayalah, kepala daerah nggak berkualitas begini nggak akan membawa daerahnya jadi maju dan sejahtera. Wahai kepala daerah, tunjukkan kualitas anda!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img