Jakarta, PIS – Hasil survei dari Setara Institut harus menjadi perhatian kita. Gimana nggak, saat ini jumlah pelajar intoleran aktif meningkat lebih dari dua kali lipat. Dari sebelumnya pada 2016 hanya 2,4 persen saat ini menjadi 5,6 persen.
Indikator-indikator yang lain juga hasilnya sangat mengkhawatirkan. Lebih dari 56,3% pelajar setuju dengan penerapan syariat Islam. Sementara 83,3% siswa menganggap Pancasila bukan ideologi negara yang tetap dan bisa diganti.
Selain itu, 51,8% pelajar menganggap negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, sebagai ancaman terhadap agama dan budaya Indonesia. Tidak hanya itu, sekitar 33% pelajar setuju untuk membela agama, bahkan rela mati.
Bahkan 0,6% sudah terpapar radikalisme-terorisme. Survei Setara dilakukan sejak Januari hingga Maret 2023, di lima kota besar yakni: Bandung, Bogor, Surabaya, Surakarta, dan Padang.
Dengan jumlah siswa yang dilibatkan sebanyak 947 siswa. Setara Institute adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang secara rutin melakukan pemantauan dan kampanye keberagaman di Indonesia.
Menurut Direktur Eksekutif Setara, Halili Hasan, ada lima faktor yang mempengaruhi tingkat toleransi pelajar di Indonesia. Salah satunya adalah pengaruh orang tua dan guru agama.
Semoga pemerintah, terutama Mendikbudristek dan Kemenag memberi perhatian terhadap hasil survei ini. Dan segera melakukan upaya pencegahan semakin membesarnya tingkat intoleransi di sekolah. Yuk, kita jaga generasi muda Indonesia



