Habib Jafar Puji Siswi Muslim Cium Tangan Biarawati

Published:

Lagi viral nih, sebuah video beberapa siswi Muslim yang mencium tangan seorang biarawati Katolik. Video ini juga dapat banyak tanggapan positif, salah satunya Habib Ja’far Al Hadar, seorang ulama muda yang dikenal dengan pemikiran terbuka. Habib Ja’far memuji momen itu sebagai simbol keindahan Indonesia dan Islam yang hidup berdampingan. “Sungguh pemandangan yang begitu indah, seolah-olah Indonesia dan Islam dirangkum secara utuh dalam video beberapa detik ini,” ujar Habib. Ia juga bilang kalau dalam Mazhab Syafi’i—yang dianut mayoritas Muslim Indonesia—berjabat tangan dengan non-Muslim itu bukan hal yang dilarang.

Ga hanya itu, kata Habib, fatwa dari Pusat Fatwa Elektronik Al-Azhar Mesir ga cuma ngebolehin, tapi malah dianjurkan. Karena, katanya, tindakan seperti itu penting banget buat membangun hubungan harmonis, sekaligus menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta. Selain itu, Habib juga bilang kalau banyak non-Muslim nggak pernah baca Al-Qur’an atau hadis Nabi. Tapi mereka bisa “membaca” Islam dari perilaku umatnya. Kalau akhlak kita baik, mereka pun akan melihat Islam sebagai agama yang luhur, katanya. Habib lalu ngutip Surah Al-An’am ayat 108, yang melarang keras menghina sesembahan agama lain.

Yang paling keren tuh, saat Habib lalu bilang, ngucapin salam itu indah, tapi bersalaman itu luar biasa. Kenapa? Karena ada sentuhan fisik yang bisa menghancurkan dinding-dinding prasangka. Dalam bersalaman, kata Habib, semua rasa curiga dan buruk sangka bisa luluh seketika. Maka, bagi Habib, mencium tangan bukan sekadar tanda hormat, tapi cerminan akhlak seorang Muslim sejati. Dan mencium tangan seorang biarawati, justru menunjukkan penghormatan terhadap tokoh agama lain yang terhormat.

Habib lalu menutup penjelasannya dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW: “Seorang Muslim adalah orang yang membuat orang lain merasa aman dari lisan dan tangannya.” Keren ya, cara pandang Habib Ja’far ini. Ia ngajarin kita bahwa toleransi itu bukan kelemahan, tapi kekuatan. Nggak perlu takut iman kita luntur hanya karena menghormati orang dari agama lain.

Di tengah masyarakat yang gampang curiga dan mudah tersulut perbedaan, sikap seperti ini menjadi pencerah. Karena kenyataannya, intoleransi di negeri ini masih tinggi. Laporan Setara Institute (2024) mencatat ada sekitar 157 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Rumah ibadah masih dibubarkan, kegiatan keagamaan minoritas masih sering diganggu. Ironisnya lagi, semua itu sering dibenarkan atas nama “menjaga iman”.

Dan pernyataan Habib Ja’far ini kembali ngingetin kalau Islam bukan agama kekerasan. Islam nggak pernah ngajarin permusuhan ke yang berbeda agama. Justru Islam ngajarin untuk menjalin hubungan baik, selama mereka juga nggak menindas atau memerangi kita. Di negeri seberagam Indonesia, kedewasaan beragama itu sangat penting. Agar toleransi bisa tumbuh, dan kerukunan bisa jadi nyata.

Indonesia bukan negara satu agama. Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun di atas keberagaman. Karena itu, toleransi bukan sebuah pilihan, tapi keharusan. Semoga suara Habib Ja’far bisa menginspirasi lebih banyak tokoh agama untuk menyebar pesan damai. Yuk, terus jaga kerukunan dan rawat keberagaman!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img