Jakarta, PIS – Pondok pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, lagi jadi sorotan. Itu karena ada yang dianggap janggal ketika pelaksanaan saat shalat Idul Fitri kemarin di sana.
Nampak jamaah laki-laki dan perempuan berbaur di shaf yang sama. Itu dianggap tidak lazim karena shaf laki-laki dan perempuan seharusnya dipisah. Apa yang terjadi pada 1 Syawal itu menuai banyak komentar.
Banyak netizen yang menganggap apa yang dilakukan di Al-Zaytun itu sebagai bentuk penyimpangan. Belakangan Kemenag Indramayu melakukan kunjungan ke Al-Zaytun. Setelah melakukan dialog, Kemenag akhirnya membiarkan Al-Zaytun tetap pada prinsipnya.
Kemenag berpegang pada sikap MUI Pusat yang menyatakan bahwa salat berjamaah secara bercampur itu sah, meskipun hukumnya makruh. Sebenarnya, bukan kali ini kontroversi dilakukan pesantren terbesar se-Asia Tenggara itu.
Pimpinan Al-Zaytun, Panji Gumilang, misalnya, pernah mengucapkan salam khas umat Yahudi “Havenu Shalom Aleichem” dalam acara malam 1 suro. Dia bahkan mengajak yang hadir untuk mengucapkan salam itu sambil berdiri.
Kalau yang menyanyikan salam itu adalah Cak Nun dengan Kiai Kanjengnya, mungkin itu tidak terlalu bermasalah. Hal lain yang juga kontroversial Al-Zaytun adalah dugaan keterlibatan Al-Zaytun dengan Komandemen Wilayah 9 Negara Islam Indonesia (NII).
NII adalah kelompok bersenjata yang tumbuh sebelum kemerdekaan yang berusaha ingin mendirikan negara Islam dan menentang konsep Indonesia seperti saat ini. Tapi, Panji Gumilang dengan tegas membantah dugaan itu.
MUI pernah merilis temuan para penelitinya tentang paham dan ajaran Islam yang dipraktekkan di Al-Zaytun pada tahun 2002. Inti temuan utamanya adalah ada penyimpangan paham dan ajaran Islam di Al-Zaytun.
Btw, jika kita bebas mengikuti dan tidak mengikuti fatwa yang dikeluarkan MUI. Maka kita juga bebas mengiyakan dan tidak mengiyakan temuan penelitian MUI tentang Al-Zaytun. Apa pendapat kamu soal ini? Komen di bawah ya!



