Presiden Prabowo kasih hadiah kepada ofisial dan para pemain Timnas Indonesia. Hadiahnya nggak kaleng-kaleng. Hadiahnya jam tangan merek Rolex. Momen pemberian hadiah dilakukan di rumah pribadi Prabowo di kawasan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada 6 Juni lalu. Presiden mengundang ofisial dan jajaran pemain tim nasional sepak bola kita ke rumahnya untuk makan siang. Hadiah ini sebagai bentuk apresiasi presiden atas kemenangan Timnas melawan China dengan skor akhir 1-0 pada 5 Juni lalu. Jam tangan merk Rolex itu harganya diperkirakan Rp180 sampai 200 juta per unit. Salah satu pemain, Justin Hubner, membagikan foto jam tersebut di akun Instagram-nya.
Reaksi publik beragam. Ada yang memuji, tapi ada juga yang bertanya kritis. Menurut komika Ernest Prakasa, hadiah dari presiden itu tindakan yang pantas untuk para pemain. Tapi, dia mempertanyakan sumber dananya. “Katanya efisiensi anggaran, ini jam mahal pakai anggaran apa?” tulisnya di akun X miliknya. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, juga angkat suara. Dia mengapresiasi hadiah itu. Tapi menekankan pentingnya keadilan bagi seluruh cabang olahraga. “Agar tidak menimbulkan kesan pilih kasih,” katanya dalam pernyataan resmi.
Mantan atlet wushu nasional, Lindswell Kwok, memberi kritik lebih tajam. Dia membandingkan besarnya anggaran untuk sepak bola dan minimnya untuk wushu dan cabang olahraga lain. Lindswell menyayangkan pelatnas Youth Olympic Games wushu yang tiba-tiba dibubarkan akibat pemotongan anggaran. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan publik itu. Menurutnya, hadiah jam tangan Rolex itu berasal dari uang pribadi presiden. Kata Prasetyo, hadiah itu nggak sebesar jasa Timnas Indonesia yang berhasil mengalahkan Cina.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, memperkuat jawaban Prasetyo Hadi. Dito memastikan jam tangan diberikan dari dana pribadi presiden, bukan dari APBN. Dito juga bilang ini bukan kali pertama presiden kasih hadiah dari dana pribadinya untuk atlet. Pada 29 Juli 2024, Prabowo memberikan hampir Rp7,25 miliar kepada 29 atlet Olimpiade Paris. Saat itu presiden masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Kontingen Indonesia. Hadiah diberikan kepada atlet peraih medali dan yang hanya berhasil lolos kualifikasi. La Memo (atlet dayung) dan Rifda Irfanaluthfi (atlet senam artistik) menerima simbolis mewakili 29 atlet tersebut. Masing-masing atlet menerima Rp 250 juta langsung dari dana pribadi Prabowo. Atlet penerima berasal dari berbagai cabang olahraga. Panahan, panjat tebing, senam, menembak, renang, bulu tangkis, judo, sampai angkat besi.
Hadiah yang diberikan presiden kepada para pemain timnas sepakbola kita pantas dihargai. Nggak semua pejabat publik punya kesadaran untuk memberi apresiasi kepada pahlawan di lapangan olahraga dari kantongnya sendiri. Tapi, sudah waktunya ada kebijakan penghargaan yang berpihak pada semua atlet. Negara harus membalasnya dengan sistem yang adil, bukan tergantung goodwill personal. Supaya semua atlet merasa dilihat, dihargai, dan disetarakan. Karena olahraga bukan sekadar pertandingan, tapi juga cermin dari keadilan sosial kita. Dan bangsa yang adil, dimulai dari menghargai semua perjuangan tanpa pilih kasih. Jika kita ingin olahraga Indonesia maju, maka keadilan ini harus terus diupayakan. Atlet Indonesia, kalian luar biasa!


