Miris banget! Pas saudara-saudara kita di Aceh lagi butuh bantuan darurat, malah ada drama administrasi yang bikin bantuan tertahan.
Komunitas Aceh di Malaysia udah siap-siap kirim 500 ton bantuan logistik buat korban banjir dan longsor. Bayangin, 500 ton loh, itu banyak banget! Bantuan ini udah standby di Port Klang, Malaysia, siap dikirim pakai kapal laut swasta ke Krueng Geukeuh. Tapi sampai sekarang, bantuannya masih nggak bisa berangkat.
Kenapa? Karena pemerintah Indonesia belum netapin Status Bencana Nasional untuk banjir di Aceh. Padahal korban meninggal udah hampir seribu orang di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Datuk Mansyur Usman, Presiden Persatuan Masyarakat Aceh di Malaysia (PERMEBAM), udah ketemu sama pejabat KBRI di Malaysia. Dia bilang masalahnya adalah aturan antarnegara yang ketat banget. Kalau belum ada Status Bencana Nasional, bantuan dari luar negeri nggak bisa masuk begitu aja. Prosesnya jadi ribet, izinnya lama, ujung-ujungnya bantuan tertunda.
Nah, yang bikin makin pusing, ternyata ada pernyataan dari Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamuddin. Beliau bilang Indonesia belum terima bantuan asing karena alasan “harga diri bangsa kita tinggi.” “Selama bangsa kita masih mampu mengelola dan me-recovery bencana ini dengan cepat, harga diri bangsa kita juga tinggi,” katanya.
Beberapa menteri juga ngeluarin pernyataan serupa. Contohnya Menko PM Muhaimin Iskandar bilang, “Kita masih kuat, ngapain?” Menlu Sugiono juga yakin Indonesia bisa mengatasi sendiri, jadi bantuan asing belum diperlukan. Bahkan Mensesneg Prasetyo Hadi bilang stok pangan cukup, APBN juga ada dana siap pakai Rp 500 miliar.
Tapi, plot twist-nya adalah Gubernur Aceh, Mualem, malah berbeda pendapat. Dia bilang bantuan internasional untuk Aceh “sah-sah aja, tidak ada masalah.” Jadi ada perbedaan pandangan antara pusat dan daerah nih. Pusat bilang tutup dulu, daerah bilang buka aja.
Yang bikin makin menarik, BNPB ngasih data estimasi biaya pemulihan yaitu Rp 51,82 triliun! Untuk Aceh aja butuh Rp 25,41 triliun, belum Sumut dan Sumbar. Sekitar 37.500 rumah rusak, belum infrastruktur seperti jembatan, jalan, sekolah, puskesmas. Dengan angka segede ini, apa bener kita masih bisa handle sendiri?
Pakar bencana dari MPBI, Avianto Amri, bilang keputusan tolak bantuan asing ini kayak “menyangkal kenyataan.” Dia bilang kalau cuma mengandalkan pemerintah, pemulihan bisa makan waktu 20-30 tahun. Padahal dalam penanggulangan bencana, kecepatan penanganan adalah kuncinya. Kalau lambat, sama aja nambah penderitaan korban.
Meanwhile, 500 ton bantuan dari komunitas Aceh di Malaysia masih parkir di pelabuhan. PERMEBAM udah kirim surat resmi ke Presiden Prabowo, minta kelonggaran. Soalnya yang mau bantu banyak dari berbagai kalangan, seperti konglomerat dan lembaga kemanusiaan juga. Mereka berharap ada jalan tengah yang bisa bikin bantuan cepat masuk.
Netizen juga pada ribut soal ini. Banyak yang nanya, “Korban hampir seribu jiwa tapi masih egois soal harga diri?” Ada juga yang bilang, “Yang butuh bantuan itu rakyat, bukan pemerintah.” Kritik lain nyinggung soal prioritas. “Kenapa harga diri lebih penting dari nyawa manusia?”
Jujur, yang terpenting sekarang adalah korban dapat bantuan secepat mungkin. Apakah bantuan itu dari dalam atau luar negeri, yang penting tepat sasaran dan cepat. Harga diri bangsa memang penting, tapi nyawa dan kesejahteraan rakyat harusnya lebih penting.
Sekarang tinggal tunggu aja, apakah pemerintah bakal ubah keputusan. Apakah Status Bencana Nasional bakal ditetapkan supaya bantuan Malaysia bisa masuk. Atau mungkin ada solusi lain yang lebih fleksibel. Yang jelas, korban di lapangan nggak bisa nunggu terlalu lama.
Mudah-mudahan ke depannya ada mekanisme yang lebih cepat dan efisien. Supaya pas ada bencana, bantuan bisa langsung nyampe tanpa drama berkepanjangan. Karena pada akhirnya, yang paling penting adalah keselamatan dan kesejahteraan rakyat!


