Netizen Brazil Salahkan TIM SAR Indonesia Gagal Selamatkan Pendaki Asal Brasil

Published:

Juni ini, ada kabar duka datang dari Gunung Rinjani, Lombok, NTB. Seorang pendaki asal Brasil bernama Juliana Marins tewas saat mendaki gunung itu. Kabar tewasnya viral karena setelah jadi bahan saling tuding antara keluarga korban, netizen Brazil dan netizen Indonesia. Juliana adalah seorang solo traveler. Sejak Februari 2025, dia keliling Asia Tenggara—Thailand, Vietnam, sampai akhirnya berkunjung ke Indonesia.

Tepat Sabtu lalu, dia ikut rombongan kecil berisikan 5 orang dan 1 pemandu buat mendaki Rinjani lewat jalur Sembalun. Sekitar jam setengah tujuh pagi, Juliana ngerasa capek pas nanjak ke puncak, karenanya dia mutusin buat istirahat sebentar. Rombongan lain setuju, dan terus ninggalin dia di titik itu, tapi akan kembali menjemput Juliana. Waktu rombongannya balik lagi… Juliana udah gak ada. Dugaannya dia jalan pelan-pelan cari tempat lebih nyaman. Masalahnya kayaknya dia justru mendekat ke jurang yang berkabut.

Setelah itu diduga Juliana tergelincir jatuh 150 meter dari jalur, lalu meluncur terus sampai kedalaman 500–600 meter. Begitu ada laporan kehilangan, tim SAR langsung bergerak. Tim yang dikerahkan adalah gabungan langsung dari Basarnas, TNI, polisi, relawan, dan porter lokal. Mereka sempat pakai drone thermal yang sempat menangkap suara minta tolong dan sinyal panas untuk mendeteksi tanda Juliana masih hidup. Tapi akses ke lokasi Rinjani bukan hal gampang ya.

Jalurnya curam, kabut tebal, suhu dingin, visibilitas rendah yang bikin evakuasi gak mungkin pakai helikopter. Alhasil tim SAR menyisir lereng kawah pakai tali, teknik vertikal rescue dan alat mountaineering. Mereka harus turun manual, gali pasir, dan naik-turun tebing yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut. Akhirnya, di hari keempat, tepat pada 24 Juni, tim berhasil tembus ke lokasi. Tapi sayangnya, dia udah dalam keadaan tak bernyawa.

Jenazahnya dievakuasi ke atas tanggal 25 Juni, lewat jalur darat selama 5 jam lebih. Semua dilakukan manual—tanpa alat berat, tanpa helikopter. Banyak netizen Brasil langsung menyalahkan tim SAR Indonesia. Ada yang bilang evakuasi terhitung lambat dan gak niat nyelamatin. Bahkan beberapa netizen Brasil bikin cocoklogi perihal rasisme sampai dugaan pemerkosaan.

“Jika dia adalah seorang wanita kulit putih Amerika, akan ada helikopter, berita utama, dan urgensi,” tulis akun X @zellieimani. “Saya pikir wanita ini diperkosa oleh pemandu wisata dan dibuang disana dan perusahaan tur tahu apa yang terjadi”, tulis akun X @Lariduartte22. Tapi komentar itu langsung dibantah sama netizen Indonesia.

“Indonesia tidak seperti kalian semua, di mana ras menentukan siapa yang layak mendapat pertolongan,” tulis akun X @tekooila. “Tim SAR Indonesia itu nangkring di Top 7 dunia, mereka terkenal selalu all-out ngerjain tugasnya,” tulis akun X, @el_evraham.

Buat kami di PIS, sejujurnya tragedi ini gak bisa dilihat hitam putih. Juliana memang bukan pendaki amatir, tapi Rinjani jelas bukan gunung yang bisa dianggap enteng. Keputusan buat istirahat sendiri saat kabut tebal di medan terbuka adalah risiko besar. Di sisi lain, pemandu seharusnya gak ninggalin anggota rombongan di jalur berbahaya. Dan dari sisi tim SAR, mereka udah gerak cepat, pakai teknologi dan kerja maksimal di medan super ekstrem.

Mungkin yang bisa diperbaiki adalah komunikasi ke keluarga korban, supaya gak ada lagi keluarga yang tahu info dari media duluan. Gunung Rinjani sendiri udah lama dikenal sebagai jalur pendakian yang indah tapi juga brutal. Ditambah lagi kabut, dingin, angin, dan ketinggian 3.700 meter bikin fisik dan mental ikut digempur. Komunitas pendaki bilang, bukan medan teknikal seperti panjat tebing, tapi sangat menguras fisik dan mental.

Tentu kita semua berduka, atas meninggalnya Juliana Marins. Jadi sekarang, bukan waktunya untuk saling tuding, tapi buat saling introspeksi. Buat pendaki: jangan anggap enteng gunung dan dengan jalan sendiri. Buat pemandu: SOP harus diperketat ya, apalagi kalau bawa wisatawan asing. Buat pemerintah: coba perbaiki sistem komunikasi dan respon darurat agar tidak salah paham kemudian.

Semoga kedepannya gak ada lagi nyawa yang hilang karena satu momen yang bisa dicegah ya. Rest in peace, Juliana. Semoga pendakian terakhirmu jadi pelajaran penting buat kita semua…

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img