Jadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia, tapi pas merdeka malah dilupain. Itulah nasib kaum Tionghoa di Indonesia. Baru-baru ini, sejarah ini diangkat lagi sama sejarawan Azmi Abubakar, lewat akun Instagram-nya @azmiabubakar12. Dia ngungkap fakta mengejutkan: kaum Tionghoa ternyata punya andil besar dalam perjuangan kemerdekaan RI. “Orang-orang Tionghoa melakukan perlawanan, berperang melawan penjajah Belanda di berbagai daerah”, ucap Azmi. Selain itu, Azmi juga ungkit tokoh Tionghoa, Liem Koen Hian yang berjasa karena membuat partai bernama Partai Tionghoa Indonesia (PTI).
PTI didirikan tahun 1932 di Surabaya, empat tahun setelah Sumpah Pemuda. Azmi bahkan nampilin kartu anggota PTI, bukti bahwa kaum Tionghoa udah mikirin soal identitas kebangsaan jauh sebelum Indonesia merdeka. Dia lanjut cerita soal PTI yang punya jajaran pemimpin lain, seperti Choa Ciliang dan Ko Kwak Siong. Tapi sayangnya, partai ini dibubarin Jepang tahun 1942.
Dari awal video, sebenarnya Azmi udah tau kalau fakta kayak gini tuh gak mudah diterima netizen. Tapi ya, dia menganggap netizen begitu karena nggak tau dan terlalu lama dicekokin narasi yang salah. Nah di luar ekspektasi Azmi, ternyata ada respon unik yang dilontarin netizen. Ada salah satu netizen yang justru mengakui jasa orang Tionghoa dan bahkan berterima kasih. Tapi gak mau kalah, orang itu malah bilang Tionghoa di masa kemerdekaan lebih banyak jeleknya dibanding baik-baiknya. “Orang Tionghoa kan banyak pengkhianatnya bang”, ucap Azmi mengutip komen netizen. Azmi pun mempertanyakan kenapa orang itu bisa menyimpulkan orang Tionghoa seakan-akan buruk.
“Menurut saya, saudara kita tersebut juga merupakan korban dari rezim Orde Baru”, ucapnya. “Yang selama puluhan tahun menghilangkan sejarah kepahlawanan orang-orang Tionghoa, bahkan memfitnahnya”, lanjutnya. Orang yang waras kalo denger fakta ini tuh… pasti sedih banget ya. Di era Orde Baru, narasi sejarah yang beredar emang udah dipoles sedemikian rupa. Identitas Tionghoa ditekan, budaya mereka dilarang, dan sejarah kontribusi mereka dihapus dari buku pelajaran. Bahkan nyebut kata “Tionghoa” aja dilarang, yang boleh cuma “Cina” dan itu pun dengan nada merendahkan.
Padahal, banyak tokoh Tionghoa yang bener-bener berjuang buat Indonesia. Selain Liem Koen Hian yang disebut Azmi, ada Souw Tjien Hoat, seorang dokter yang gabung Laskar Rakyat dan gugur pas ngebela kemerdekaan. Lalu ada John Lie, Laksamana Muda TNI yang nyelundupin senjata buat Republik pas agresi militer Belanda. Bayangin, dia ngelakuin itu demi Republik Indonesia, padahal bisa aja dia memilih zona yang aman. Tapi dia pilih ikut perang, pilih perjuangin Indonesia.
Gimana bisa generasi kita tumbuh dengan pemahaman yang utuh, kalau sejarahnya aja udah dipretelin dari dulu? Yang diangkat cuma tokoh dari kalangan tertentu, seolah perjuangan cuma milik segelintir orang. Padahal, realitanya perjuangan tuh rame-rame, multietnis, multibudaya dan multi keyakinan. Jadi kalau sekarang masih ada yang menganggap kaum Tionghoa cuma “penumpang” dalam perjuangan bangsa, itu gak boleh kita biarin.
Ngangkat lagi sejarah kaum Tionghoa bukan berarti kita naikin satu etnis dan nurunin yang lain. Tapi justru buat nunjukin bahwa Indonesia ini dibangun bareng-bareng. Dari Sabang sampai Merauke, dari yang mayoritas sampai minoritas. Hormati yang berjuang, siapapun dia. Hargai perbedaan, dan jangan pernah ngulangin diskriminasi yang sama. Yuk stop mikir dan lihat sejarah pake kacamata Orde Baru!


