UGM Bakal Habisi Dosen Killer??!!

Published:

Universitas Gadjah Mada bakal ngelarang dosen killer di lingkungan kampus. Ini disampein langsung sama Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof Wening Udasmoro pada 31 Oktober kemaren. Wening bilang, kebijakan ini disusun untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman, tanpa ada kekerasan baik fisik maupun psikis.

Selama ini, di semua perguruan tinggi, biasanya ada aja dosen yang disebut killer di kampus. Tapi definisi dosen killer ini bisa beda-beda. Misalnya, ada aja dosen yang strict banget terapin peraturan. Pokoknya mahasiswa nggak boleh terlambat semenit aja buat hadir di kelas. Ada juga yang keras banget nerapin deadline pengumpulan tugas. Atau ada juga yang suka bentak-bentak atau mempermalukan mahasiswa di kelas, termasuk soal cara berpakaian. Atau kasih standard yang tinggi banget dalam memberi penilaian, alias pelit nilai. Tapi, ada juga yang emang kesannya mempersulit mahasiswa.

Yang paling parah kalau ini terjadi pas mahasiswa nulis skripsi atau tugas karya akhir. Si dosen kayak cari-cari kesalahan si mahasiswa, walau si mahasiswa sudah mati-matian memperbaiki karyanya. Ini jelas bisa bikin mahasiswa frustasi atau bahkan depresi. Yang kayak gini nih bisa aja bikin dendam kesumat bagi mahasiswanya, bahkan bisa berujung maut loh. Kasus pembunuhan yang dikakuin mahasiswanya akibat dosen killer pernah terjadi di Sumatera Utara pada 2 Mei 2016 lalu.

Roymando Sah Siregar, seorang mahasiswa dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membunuh dosen bimbingannya sendiri, Nur Ain Lubis. Gara-garanya, mereka terlibat cekcok soal skripsi dan nilai akademik. Nur Ain sendiri dikenal sebagai sosok yang tegas, ketat pada peraturan dan sangat ditakuti mahasiswinya. Karena ngerasa sengaja dipersulit, Roymando pun kalap dan membunuh sang dosen.

Persoalan-persoalan kayak gini yang berusaha diatasi di UGM. Wening bilang dosen ‘killer’ atau galak terhadap mahasiswanya udah nggak relevan lagi. Dia berharap UGM bisa jadi kampus yang aman, nyaman, inklusif, ramah, dan bertanggung jawab secara sosial. UGM ingin menghapus kekerasan verbal, kekerasan psikologis fisik dan yang paling penting kekerasan seksual. Saat ini pihak kampus lagi nyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang gimana relasi yang aman dan nyaman antara dosen-mahasiswa, sesama mahasiswa serta orang tua-mahasiswa. Mudah-mudahan upaya UGM ini bisa sukses ya.

Kalian punya pengalaman diajar atau dapet dosen yang killer nggak? Kalo ada, share ceritanya dong di di kolom komentar!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img