Pernah dengar istilah ani-ani syariah? Kalau belum, tenang, kamu bukan satu-satunya. Ini lagi jadi fenomena panas di media sosial, tapi juga bikin banyak orang gagal paham dan salah sasaran.
Istilah ini sebenarnya gabungan dari dua hal: “ani-ani”, alias perempuan yang tampil cantik tapi profesinya sebagai ‘simpanan’ pria-pria kaya. Dan “syariah”, yaitu gaya berpakaian syar’i seperti jilbab panjang, gamis, atau cadar. Ketika dua konsep ini disatuin, lahirlah label satir untuk menggambarkan perempuan yang tampil super religius tapi dianggap punya perilaku yang bertolak belakang. Biasanya ujungnya dikaitkan ke kasus perebut pasangan atau perusak rumah tangga orang lain.
Viralnya istilah ini muncul karena beberapa kasus yang nunjukin influencer atau konten kreator ber-branding islami tapi ternyata terungkap punya hubungan sama suami orang. Ada juga laporan perselingkuhan yang melibatkan perempuan berpenampilan syar’i, dan itu bikin publik makin merasa ada ironi.
Masalahnya, netizen jadi ngegas duluan; Dari satu dua kasus, tiba-tiba jadi stereotip massal. Banyak perempuan berhijab yang nggak ada hubungannya sama drama ini ikut kena stigma, misal karena tabiatnya sama. Padahal bisa aja tabiatnya sama, tapi dari hasil usaha sendiri. Mereka yang percaya stigma ini merasa seolah semua orang berhijab masuk satu keranjang kecurigaan. Di titik inilah percakapan publik mulai bergeser dari kritik perilaku individu jadi serangan ke identitas religius.
Beberapa konten TikTok makin memperkuat stereotip, salah satunya dari akun @sulthanramadhanabdillah. Dia ngejelasin panjang soal “ani-ani syariah” yang katanya suka ngaku kerja keras padahal “disuntik dana om-om”. Bahkan dia nyindir gaya hidup high-end yang nggak match sama gaji UMR. Kalau ditanya kontennya lucu, mungkin iya. Tapi konten komedi kayak gini sering diperlakukan netizen sebagai “bukti sosial”, padahal ini cuma potongan pengalaman subjektif yang dibikin dramatis.
Dari sudut pandang Gerakan PIS, percakapan ini perlu diluruskan biar nggak makin bias gender dan nggak merusak kultur keberagamaan. Pertama, kami tegas menolak generalisasi ke perempuan berjilbab. Penampilan religius nggak boleh dijadikan bahan curiga massal. Istilah seperti “ani-ani syariah” atau “pelakor syariah” itu problematik karena menyeret identitas agama dalam isu yang sebenarnya soal pilihan moral individu.
Tapi di saat yang sama, kami juga melihat bahwa perilaku seseorang, laki-laki maupun perempuan tetap harus dikritik. Terutama kalau menyalahgunakan simbol agama untuk menutupi tindakan keliru. Perilaku tidak konsisten seperti tampil syar’i tapi merusak rumah tangga orang jelas merugikan korban dan merusak reputasi perempuan berhijab lain.
Namun penting juga ditekankan bahwa perselingkuhan selalu bersifat resiprokal. Keduanya sama-sama punya kehendak, pilihan, dan kontrol atas apa yang mereka lakukan. Kedua belah pihak sama-sama membuat keputusan dan dua belah pihak itu harus bertanggung jawab. Laki-laki yang memberi ruang, membuka pintu, atau bahkan memelihara hubungan terlarang nggak bisa luput dari kritik. Mengarahkan kemarahan hanya ke perempuan itu bias gender dan nggak adil. Jadi kalau kita mau menegur, ya tegur dua-duanya. Tidak ada perselingkuhan yang berdiri sendirian.
Poin penting buat kami, ya kritiklah perilaku, bukan identitas. Ruang digital harusnya jadi tempat belajar, bukan tempat melabeli dan menyebarkan kebencian. Moralitas itu bukan soal jilbab panjang, konten dakwah, atau status sosial—tapi soal integritas sehari-hari. Orang yang benar-benar menjaga agama mestinya menjaga agar simbol agamanya nggak dipakai untuk manipulasi maupun pembenaran perilaku salah.
Yuk bareng-bareng jaga akal sehat, jaga adab, dan jaga ruang digital tetap sehat.


