War ticket kampanye terakhir Anies-Muhaimin ngalahin war ticket konser Coldplay? Ya wajar, GRATIS!
Jadi, platform pemesanan tiket hiburan, Goers, mengklaim tiket acara kampanye Anies-Muhaimin bertajuk ‘Kumpul Akbar’ ludes terjual. Co-founder Goers, Niki, bilang pemesan tiket acara itu membeludak sampai 3,5 juta pemesanan dalam hitungan menit setelah pemesanan tiket dibuka.
“Ini rekor melebihi saat penjualan war ticket atau konser lainnya,” kata Niki. Dia lantas membandingkan war ticket acara kampanye terakhir Anies-Muhaimin itu dengan war ticket konser Coldplay.
Dari informasi di website penyedia tiket konser Coldplay, Loket.com, katanya, platform itu cuma melayani 1,5 juta pemesan di sesi awal. Akibat membeludaknya pemesanan tiket acara kampanye terakhir Anies-Muhaimin, Goers terpaksa ambil langkah. Goers memunculkan pesan untuk mengantre hingga beberapa jam ke depan di websitenya. FYI, acara kampanye terakhir Anies-Muhaimin itu bakal digelar pada 10 Februari 2024 di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara.
Sepintas, pendukung Anies-Muhaimin terlihat keren ya. Mereka militan seperti militannya fans Coldplay.
Tapi, iya begitu? Kalo dilihat di website Goers, ternyata war ticket kampanye terakhir Anies-Muhaimin cuma gimmick aja. Katanya war ticket, tapi harga tiketnya nol Rupiah, alias gretong. Bandingin sama harga tiket konser Coldplay, mulai dari 800 ribu sampai 11 juta Rupiah. Lagi pula, mana mungkin JIS sanggup menampung 3,5 juta pengunjung. JIS cuma bisa menampung 82 ribu orang.
Venue yang over capacity justru berbahaya bagi keselamatan warga yang datang. Lagi pula, acara kampanye politik di Indonesia itu kecenderungannya masih sama sampai sekarang: memobilisasi massa. Artinya, massa didatangkan dari wilayah menengah ke bawah dengan menyewakan bus dan diberi ongkos ala kadarnya. Ini berbeda dengan tradisi politik di Amerika Serikat. Warga datang ke lokasi kampanye kandidat presiden yang didukungnya dengan membayar tiket. Mirip-mirip kalo mereka mau nonton pertunjukkan atau pertandingan olahraga.
Di musim kampanye seperti sekarang, kita jangan naif. Harus kritis menerima informasi yang disebar timses. Yuk, jadi pemilih yang cerdas!


