Arab Saudi kasih rapor merah ke Indonesia soal pengelolaan haji. Saudi bahkan wacanain pangkas kuota haji Indonesia sampai 50 persen tahun depan. Bayangin, kuota haji kita yang biasanya 200 ribu lebih jemaah bakal turun separuhnya. Itu kan artinya waktu antri jemaah haji kita yang udah belasan sampai puluhan tahun bakal makin lama lagi. Jadi, Badan Penyelenggara Haji (BPH) Indonesia bilang Saudi kasih ‘rapor merah’ terkait buat sejumlah aspek penyelenggaraan haji Indonesia tahun ini.
Saudi, misalnya, menyoroti ketidakakuratan data kesehatan jemaah haji. Padahal data ini penting banget buat kebutuhan manajemen risiko kesehatan jemaah selama ibadah, terutama saat musim haji yang padat banget. Saudi juga menyoroti manajemen transportasi, konsumsi, sampai akomodasi jemaah selama melakukan rangkaian ibadah, terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Penilaian buruk ini sempat memicu wacana Saudi akan mengurangi kuota jemaah haji Indonesia sampai 50 persen tahun berikut. Wakil Kepala BPH, Dahnil Anzar Simanjuntak, bilang wacana itu disampein Kementerian Haji dan Umrah Saudi yang menilai pengelolaan haji kita pada tahun ini semrawut. “.. mereka ingin memberikan warning, tahun ini pelaksanaan haji kita buruk,” kata Dahnil.
Dahnil juga bilang Kementerian Haji dan Umrah Saudi protes ke Kementerian Agama kita soal kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia. “Kenapa Anda kirim jemaah yang sudah mau meninggal dan itu menjadi masalah buat kami di dalam negeri?” katanya menirukan ucapan pejabat Kementerian Haji dan Umrah Saudi. Dahnil mengaku dia terkejut warning keras dari pemerintah Saudi itu. Tapi dia mengaku sudah melakukan negosiasi. Dahnil bilang Saudi akan membatalkan rencana pemotongan kuota haji Indonesia setelah Indonesia berkomitmen mereformasi total pengelolaan haji.
Salah satunya, lewat rencana pembentukan badan khusus pengelola haji di Indonesia. Just info, tahun depan pengelolaan haji nggak lagi dipegang Kementerian Agama, tapi oleh BPH yang statusnya setingkat kementerian. “… Pemerintah Saudi menyatakan ada harapan dengan manajemen baru,” kata Dahnil. Dahnil juga mengimbau masyarakat nggak usah khawatir soal wacana pemotongan kuota haji. Dia bilang Saudi tetap menyambut jemaah Indonesia dan bersedia bekerja sama mempersiapkan musim haji 2026. Salah satunya, Kementerian Haji dan Umrah Saudi dijadwalkan datang ke Indonesia pada Juli 2025 buat mendiskusikan teknis dan kerjasama lebih lanjut.
Informasi pembatalan pemotongan kuota haji ini jangan langsung membuat kita terlena. Ini harusnya jadi wake-up call, terutama buat pemerintah dan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan haji. Pemerintah harus bener-bener memperketat standar kesehatan calon jemaah. Nggak bisa lagi asal lolos ketika cek medis. Harus ada pemeriksaan berlapis yang melibatkan dokter profesional dan audit sistem digital. Jangan sampai nyawa jemaah dipertaruhkan cuma gara-gara data ngawur atau prosedur yang longgar.
Berdasarkan catatan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), 447 jemaah meninggal pada musim haji 2019. Catatan kematian jemaah nggak ada karena pada musim haji 2020 dan 2021 pandemi Covid-19. Sebanyak 89 jemaah meninggal dalam keberangkatan haji terbatas pada musim haji 2022. Pada musim haji 2023, jumlah kematian melonjak tajam menjadi 701 sampai 774 jemaah. Pada musim haji 2024, jumlah kematian turun menjadi 500 jemaah. Faktor utama kematian jemaah haji Indonesia adalah pneumonia, penyakit kardiovaskular, dan lansia berisiko tinggi.
Ke depan, BPH wajib bekerja ekstra keras buat menekan tingkat kematian jemaah haji kita. Manajemen logistik haji kita, mulai dari armada bus, konsumsi, sampai akomodasi, juga harus diperbaiki total. Semuanya harus sesuai standar internasional. Saudi sudah berbaik hati. Kalau kita serius berbenah soal pengelolaan haji, kuota haji kita nggak jadi dipotong. Kita harus buktikan ke Saudi dan dunia, kita bisa jadi teladan dalam soal melayani tamu Allah dengan profesional dan transparan. Yuk, perbaiki total pengelolaan haji kita!


