Kalian setuju nggak kalau ruqyah dipakai sebagai salah satu cara mencegah orang bunuh diri karena gangguan mental? Kalau kami sih, bukan menolak, tapi jelas ada langkah yang lebih nyata dan terbukti secara medis. Btw ini soal Jembatan I Barelang di Kota Batam, yang kabarnya rawan buat digunain jadi tempat bunuh diri.
Karena banyaknya kasus bunuh diri, akhirnya Jembatan itu diputusin buat diruqyah dengan menyiram 5000 liter air lengkap dengan doa dan dzikir, Jumat lalu. Fyi, ini semua berawal dari pengakuan para pasien depresi yang ditangani Ustaz Muhammad Candra P. Pusponegoro Rizqi Marzaqah Al Hana. Dia adalah pengelola Bengkel Manusia Indonesia sekaligus pimpinan Yayasan An Nubuwwah Batam.
Mereka datang dengan cerita yang hampir sama, dan makin lama makin konsisten: ada ‘bisikan halus’ yang ngajak mereka pergi ke Barelang dan melompat dari jembatan. “Ustaz, ada suara aneh berbisik. Saya seperti dituntun ke jembatan itu,” ujar Candra menirukan cerita pasien-pasiennya. Ada juga yang bilang, “seperti ada bisikan halus dalam pikiran saya. Seperti memanggil, seperti menyuruh saya melompat dari atas jembatan itu,” katanya. Yang bikin merinding, beberapa pasien bahkan belum pernah ke Barelang, tapi tetap mengaku ditarik ke sana.
Ada satu pasien selamat dari percobaan bunuh diri. “Saya tidak tahu kenapa datang ke sana. Tapi saat berdiri di tepi, ada tarikan kuat, pikiran saya kosong”, ucap pasien Candra yang selamat. Dari titik inilah Candra menyimpulkan bahwa masalahnya bukan sekadar depresi, tapi ada ‘energi negatif (al-‘ain)’. Energi itu menurutnya memengaruhi orang-orang yang sedang rapuh.
Ditambah lagi, reputasi Jembatan I Barelang sebagai hotspot bunuh diri memang sudah lama terbentuk. Ruqyah on The Street (RoS) mencatat setidaknya 7 kasus pada 2024 dengan 6 korban meninggal, dan total 11 kasus dalam dua tahun terakhir. Candra khawatir stigma ‘angker’ ini makin melebar. “Ada stigma angker, keramat… kan bahaya dalam ketauhidan. Stigma inilah yang harus dibersihkan,” ujarnya.
Btw, ritual ruqyah ini total udah dilakuin 2 kali. Ritual pertama dilakukan pada 19 Juli 2024, sendirian, dengan memakai empat botol air mineral. “Orang lewat mengira saya aneh, kocak, nyiram jembatan pakai air botol. Tapi saya bekerja untuk Allah, jadi pujian atau cacian nggak ngaruh,” kata Candra. Tapi karena “bisikan” itu terus muncul dari pasien-pasien baru, alhasil dia putusin buat ruqyah akbar pada 21 November lalu.
Jembatan sepanjang 1.284 meter disiram seluruhnya dengan mobil tangki berisikan air sebanyak 5000 liter sambil zikir, doa, salat sunah, dan kampanye anti-bunuh diri. Kabarnya ini juga jadi momentum kegiatan World Suicide Prevention Day. Ada spanduk, pin anti-bunuh diri, dan edukasi publik. Koordinator RoS, Ikhsan, juga mengingatkan: “Kita tidak ingin Jembatan Barelang menjadi seperti Jembatan Golden Gate di California, yang dikenal sebagai lokasi aksi bunuh diri.”
Dia menegaskan kalau ruqyah hanyalah ikhtiar batin, sementara yang jauh lebih penting adalah pengawasan, pendampingan, dan posko mental health di lokasi. Ustaz Candra pun bilang hal serupa: “Saya berharap Presiden Prabowo memperkuat program pencegahan bunuh diri di seluruh daerah”.
Respon publik pun terbagi-bagi: Ada yang dukung, ada yang bingung, ada yang merasa ini bisa bikin stigma baru terhadap orang depresi. Buat kami di Gerakan PIS, kami melihat ini bukan cuma soal ruqyah, viral, atau “air 5.000 liter”. Ini alarm keras bahwa tekanan jiwa di masyarakat makin berat. Ada orang-orang yang sudah sampai tahap mendengar dorongan untuk mengakhiri hidup.
Ini isu kesehatan publik, bukan sekadar mistik atau sensasi media. Kami menghargai itikad baik siapa pun yang ingin membantu sesama, termasuk melalui pendekatan spiritual. Tapi ketika aksi dilakukan di ruang publik, apalagi terkait bunuh diri, kita harus ekstra hati-hati. Jangan sampai narasinya menggiring publik pada stigma baru: bahwa orang depresi itu “kerasukan”, “kena energi negatif”, atau “ditarik gaib”. Stigma kayak gitu bikin orang makin takut cari bantuan profesional.
Kami mendorong pemerintah kota, psikolog-psikiater, tokoh agama, pengelola jembatan, dan komunitas lokal bekerja bareng. Kolaborasi lintas sektor jauh lebih efektif daripada pendekatan tunggal. Bisa dibuat dengan akses psikolog yang mudah dan murah, posko krisis di titik rawan dan petugas terlatih untuk deteksi dini. Bisa juga lewat intervensi keamanan, seperti CCTV, pagar, hotline, hingga ruang dialog spiritual yang tetap menghormati ilmu kesehatan mental.
Ruqyah bisa jadi bagian kecil dari pendekatan kultural, tapi tidak boleh menggantikan peran profesional. Kami mengajak masyarakat untuk lebih peka. Kita nggak pernah tahu seberapa berat beban hidup seseorang. Kalau ada teman, keluarga, tetangga yang mulai menunjukkan tanda kelelahan mental—jangan dihakimi, jangan disepelekan. Dengar, dampingi, dan hubungkan mereka dengan tenaga profesional.
Kalo kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk meminta bantuan ya!


